Mataram (Suara NTB) — Universitas Mataram (Unram) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus yang inklusif dengan memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan langsung Rektor Unram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd. bersama Wakil Bupati Lombok Timur, Ir. H. Moh. Edwin Hadiwijaya, M.M., kepada salah seorang calon mahasiswa baru penyandang disabilitas tuna daksa, Muhammad Fatoni Ginan Nafsi, di kediamannya di Dusun Karang Luar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, pada Jumat (31/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Unram menyerahkan sejumlah bentuk dukungan agar Fatoni dapat menempuh pendidikan tanpa terkendala keterbatasan ekonomi maupun akses. Bantuan tersebut meliputi pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT), penyediaan asrama mahasiswa, bantuan laptop sebagai penunjang pembelajaran, serta upaya mencarikan orang tua asuh guna mendukung keberlangsungan studinya.
Rektor Unram menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan hak setiap warga negara tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang sosial.
“Universitas Mataram adalah kampus yang inklusif. Siapa pun berhak kuliah. Apalagi saya mendengar Fatoni memiliki prestasi yang baik. Yang terpenting adalah tetap semangat belajar dan terus berusaha meraih cita-cita,” ujar Prof. Sukardi.
Memilih Unram untuk Wujudkan Cita-Cita
Fatoni diterima di Program Studi Teknik Industri Unram. Baginya, memilih Unram bukan sekadar melanjutkan pendidikan, tetapi menjadi langkah besar untuk mewujudkan cita-cita sekaligus mengangkat derajat keluarga dan membalas kebaikan orang-orang yang selama ini mendukungnya.
“Walaupun saya memiliki keterbatasan fisik, itu tidak membatasi semangat saya untuk menimba ilmu. Justru menjadi motivasi bagi saya untuk membuktikan bahwa saya bisa mewujudkan cita-cita,” tuturnya.
Perjalanan menuju bangku perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah bagi Fatoni. Selain harus menghadapi keterbatasan fisik, ia juga tumbuh dengan berbagai tantangan hidup. Ibunya meninggal dunia saat melahirkannya, sementara sang ayah saat ini tengah menjalani perawatan dalam kondisi koma. Namun berbagai ujian tersebut tidak pernah mematahkan tekadnya untuk terus belajar.
Kabar mengenai dukungan yang diberikan Unram menjadi momen yang paling membekas baginya. Pembebasan biaya kuliah, fasilitas asrama, bantuan laptop, hingga rencana pencarian orang tua asuh membuat beban yang selama ini ia rasakan perlahan berkurang.
“Ketika mendengar semua dukungan itu, saya sampai meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tetapi karena seperti ada beban yang selama ini saya pikul tiba-tiba terangkat,” ungkap Fatoni.
Ia juga mengaku sempat merasa khawatir mengenai proses perkuliahan yang akan dijalaninya. Namun perhatian dan dukungan yang diterimanya dari lingkungan kampus membuat rasa cemas tersebut perlahan menghilang.
“Saya berharap perjalanan saya sebagai mahasiswa Universitas Mataram menjadi pengalaman yang luar biasa. Dukungan dari kampus membuat saya semakin yakin untuk terus belajar dan berkembang. Pesan saya, tetap semangat dan jangan biarkan keterbatasan menghalangi kita untuk bermimpi,” ujarnya.
Fatoni Merupakan Pribadi yang Gigih
Kepala Dusun Karang Luar, Mugni Labib, yang mengenal Fatoni sejak kecil, menggambarkan sosoknya sebagai pribadi yang gigih dan tidak pernah merasa rendah diri meski hidup dengan keterbatasan fisik.
“Dari kecil mentalnya kuat. Dia tidak pernah merasa rendah diri. Apa pun yang ingin dicapai selalu diusahakan. Dia anak yang gigih dan tidak pernah menyerah,” ujarnya.
Menurut Mugni, sejak duduk di bangku sekolah Fatoni selalu mendapat dukungan dari teman-temannya yang bergantian mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Semangat pantang menyerah itulah yang membuat masyarakat di sekitarnya yakin bahwa Fatoni memiliki masa depan yang cerah.
“Kalau melihat kegigihannya, saya yakin peluang Fatoni untuk berhasil sangat besar. Kami semua akan terus mendukung dan mendoakan agar ia sukses menempuh pendidikan di Universitas Mataram,” katanya.
Selain dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul, Fatoni juga aktif mengembangkan keterampilannya di bidang seni dan desain. Mugni mengungkapkan bahwa Fatoni bahkan dipercaya membantu mengoperasikan peralatan produksi kerajinan berbahan kayu miliknya. Baginya, kemampuan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi Fatoni untuk terus berkarya dan berkontribusi.
Kunjungan Rektor Unram kepada Fatoni menjadi wujud nyata bahwa pendidikan tinggi harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Melalui komitmen sebagai kampus inklusif, Unram tidak hanya membuka akses pendidikan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, tetapi juga menghadirkan dukungan yang memungkinkan setiap mahasiswa berkembang sesuai potensinya.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Unram dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui akses pendidikan yang inklusif dan setara, SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan tata kelola pendidikan yang adil dan tidak diskriminatif. (ron/*)

