BerandaHEADLINESolusi Jangka Panjang

Solusi Jangka Panjang

PARIWISATA super prioritas Gili Trawangan, Meno, Air (Tramena) yang ada di Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih dihadapkan masalah dasar sejak bertahun-tahun lamanya. Permasalahan sampah menggunung hingga krisis air bersih terjadi di kawasan wisata internasional tersebut.


Di Gili Meno, beberapa waktu lalu warga melakukan aksi meminta pemerintah segera memberikan solusi jangka panjang soal masalah air yang sudah terjadi sejak tahun 2023 lalu itu. Pun dengan sampah yang menggunung karena kurang optimalnya pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) di lokasi tersebut.


Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim menyoroti belum optimalnya operasional insinerator pengolahan sampah di TPST yang diberikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Padahal, insinerator itu menjadi bagian dari proyek pengelolaan sampah di kawasan tiga gili.


Karena hal ini, ia mengaku telah menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah pusat mengenai kondisi insinerator yang hingga kini dinilai belum berjalan maksimal. Selain itu, koordinasi antara pengelola proyek dengan pemerintah provinsi juga disebut masih sangat minim.
“Kami sudah pernah meminta kepada mereka, karena sekarang mereka juga tidak ada koordinasi dengan kami di provinsi terkait insinerator itu,” katanya.


Menurutnya, pemerintah pusat saat ini masih melakukan penguatan agar operasional insinerator dapat kembali dioptimalkan, sehingga mampu menjadi solusi penanganan sampah di kawasan tersebut.


Pemerintah daerah juga meminta agar fasilitas tersebut benar-benar difungsikan secara maksimal dan tidak menjadi proyek yang gagal menyelesaikan persoalan sampah masyarakat.


Diketahui, volume sampah yang masuk ke TPST mencapai sekitar 15 hingga 18 ton per hari. Jika insinerator dapat beroperasi dalam waktu dekat, maka “gunung sampah” diharapkan dapat berkurang secara signifikan. Pemerintah provinsi juga menilai perlunya penerapan uji baku mutu sebagai standar pelayanan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.


“Saya pikir itu sangat diperlukan sebagai standar pelayanan yang berorientasi pada keberlanjutan dan ramah lingkungan,” tambahnya.


Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia mengatakan masalah sampah dan air bersih di Gili belum terlalu berdampak pada kunjungan wisatawan. Meski begitu, memasuki musim high session, ia mengatakan kebutuhan air otomatis akan terus meningkat seiring berkembangnya fasilitas wisata dan bertambahnya jumlah kunjungan.


“Kalau kunjungan meningkat, kebutuhan air juga semakin tinggi. Karena itu layanan air bersih harus berkelanjutan agar pelayanan kepada wisatawan tetap terjaga,” katanya.


Meski belum mengganggu iklim pariwisata, Aulia mengatakan persoalan air bersih yang terjadi sejak tahun 2023 itu serta sampah yang belum menemukan solusi telah menjadi perhatian Pemprov karena menyangkut layanan dasar bagi masyarakat maupun wisatawan.
“Air merupakan salah satu infrastruktur dasar. Ini tentu menjadi perhatian kami dan juga Satgas,” tutupnya. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO