PEMERINTAH Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, memperoleh Program Kelurahan Berdaya dari Pemerintah Provinsi NTB dengan alokasi anggaran sebesar Rp300 juta. Dana tersebut akan difokuskan pada tiga sektor prioritas, yakni ketahanan pangan, perikanan, dan lingkungan hidup yang disesuaikan dengan potensi serta kebutuhan masyarakat setempat.
Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Rembiga, Diana Wahyuningrum, mengatakan Program Kelurahan Berdaya memberikan kesempatan bagi pemerintah kelurahan untuk mengembangkan potensi lokal melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, masing-masing sektor memiliki sasaran yang berbeda. Pada bidang ketahanan pangan, program akan difokuskan untuk mendukung pengembangan pertanian jagung dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku produksi.
“Karena wilayah Rembiga termasuk salah satu penghasil jagung terbesar di Kota Mataram, maka program yang kami susun disesuaikan dengan potensi tersebut,” ujarnya, Minggu (7/6).
Diana menjelaskan, selama ini hasil panen jagung petani sebagian besar dipasarkan kepada pelaku UMKM untuk diolah menjadi berbagai produk makanan dan kuliner. Namun, keterbatasan sarana pengolahan membuat pelaku usaha tidak selalu dapat menyerap hasil panen secara langsung dari petani.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah kelurahan berencana memfasilitasi pengadaan alat pengolahan jagung guna meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memperkuat keterhubungan antara petani dan pelaku UMKM.
“Nanti kami bantu dengan alat pengering maupun alat perontok jagung sehingga UMKM bisa lebih mudah menyerap hasil panen petani,” jelasnya.
Selain mendukung sektor pertanian, program ketahanan pangan juga akan diwujudkan melalui pembentukan 12 Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang tersebar di enam lingkungan di Kelurahan Rembiga. Program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Diana mengatakan, pengembangan P2L akan diintegrasikan dengan sektor perikanan. Pemerintah kelurahan berencana menyalurkan bantuan bibit ikan air tawar beserta sarana pendukung budidaya dan pengolahan hasil perikanan kepada kelompok masyarakat.
“Jadi hasil budidaya dan olahannya nanti diharapkan bisa menjadi salah satu penunjang kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” katanya.
Pada sektor lingkungan hidup, Kelurahan Rembiga akan memprioritaskan dua program utama, yakni pengembangan biogas rumah tangga dan pembangunan gumbeleng atau tempat dedoro untuk pengelolaan sampah organik.
Saat ini, fasilitas biogas rumah tangga telah tersedia di enam titik di wilayah Kelurahan Rembiga. Melalui Program Kelurahan Berdaya, pemerintah kelurahan berencana menambah dua unit biogas di lingkungan yang belum memiliki fasilitas serupa.
Selain itu, pembangunan lima unit gumbeleng atau tempat dedoro juga akan dilakukan untuk mendukung pengurangan volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Program tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Mataram yang terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Saya akan menambah dua unit biogas di lingkungan yang belum memiliki fasilitas tersebut dan membangun lima gumbeleng tempat dedoro di beberapa lingkungan,” pungkasnya. (pan)


