Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa, memastikan proses reaktivasi terhadap puluhan tempat Pengolahan Sampah Terpadu, Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) setelah sempat “mati suri” masih terus dilakukan pemerintah. Proses reaktivasi masih terkesan lamban.
“Ada 13 TPS3R yang sudah terbangun. Dari jumlah itu yang aktif hanya satu dan yang kita reaktivasi baru dua sementara sisanya masih terus berproses di lapangan,” kata Kepala Seksi Kajian Dampak Lingkungan, Aryan Perdana Putra, kepada Suara NTB, Senin (8/6).
Aryan menyebutkan, berdasarkan hasil identifikasi ada 5 persoalan utama sehingga TPS3R tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Pertama terkait kelembagaan, kapasitas pengelola yang belum faham, terkendala akses karena ada beberapa TPS3R yang aksesnya sangat tidak bagus.
Ia melanjutkan, karena bangunan dan peralatannya sudah dihibahkan, sehingga pihaknya berharap Pemdes bisa mengintervensi anggarannya melalui APBDes. Meski demikian, pihaknya tetap akan melakukan intervensi lebih lanjut terutama dari segi kelembagaan dengan upaya pembinaan dan penguatan SDM.
“Kita akan selesaikan dulu dari segi kelembagaannya terlebih dahulu. Termasuk kita akan tingkatkan kapasitas SDM pengelola TPS3R dengan melakukan pelatihan beberapa kali,” ujarnya.
Pemkab Sumbawa juga sudah menyiapkan skema, sehingga produk yang dihasilkan oleh TPS3R bisa langsung diambil oleh pengepul. Bahkan pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan para pengusaha dan pengepul sampah. Sehingga produk yang dihasilkan langsung bisa diambil oleh pasar.
Pada prinsipnya perusahaan dan pemerintah daerah sudah siap mengambil produk yang mereka hasilkan dari pengelolaan sampah tersebut. Hanya saja untuk sementara ini belum ada yang berjalan karena masih fokus penataan kelembagaan terlebih dahulu sebelum benar-benar beroperasi nantinya.


