Mataram (Suara NTB) – Ambruknya dua ruang guru milik SMAN 1 Lingsar, Lombok Barat, pada Minggu (7/6/2026) dini hari menimbulkan kekhawatiran akan kondusifitas pembelajaran. Pasalnya, pengosongan ruangan tidak saja menyasar kelas yang roboh, tapi juga bangunan sekitar yang dinilai rawan tumbang.
Plt. Kepala SMAN 1 Lingsar, Efendi Agung Bijaksana, membenarkan, setelah penyegelan beberapa bangunan sekolah yang dinilai rawan itu membuat ruang kelas berkurang.
“Ya, otomatis dengan dengan di-segel-nya beberapa kelas ini mengakibatkan ruang kelas untuk pembelajaran berkurang,” ujarnya pada Suara NTB, Senin (8/6).
Beruntung, penyegelan tidak menyasar seluruh bangunan yang dipakai untuk pembelajaran. Hanya, satu ruang laboratorium dan satu ruang kelas yang terpaksa dikosongkan lantaran kondisinya yang cukup mengkhawatirkan.
“Terus ruang kelas satu saja yang terdampak itu ada satu kelas yang mau ambruk itu. Jadi sekarang kita kurang satu kelas,” tuturnya.
Kendati demikian, sekolah tetap mengantisipasi kemungkinan terburuk kejadian serupa terulang kembali. Terlebih, kondisi bangunan sekolah yang didirikan rentang 1999 hingga 2006 itu sudah dianggap tak layak pakai, terkecuali tiga ruang kelas yang baru dibangun.
“Jadi yang yang terindikasi untuk perlu direhab itu semuanya kecuali tiga bangunan baru di belakang. Jadi semuanya ini tidak layak dipakai. Tapi tidak layak persentasenya ada. Ada yang 90 persen (layak), ada yang 80 persen (layak) gitu. Kalau yang (roboh dan disegel) ini sudah diberi police line sudah 50 persen itu, jadi sudah ndak boleh dipakai,” terangnya.
Jelang berakhirnya masa penerimaan murid baru, sekolah terus “memutar otak” untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan, di tengah ruang kelas berkurang. Sementara itu, jumlah siswa di SMAN 1 Lingsar berjumlah sekitar 1.000 lebih termasuk siswa baru. Karena itu ia berencana menggunakan sistem dobel sif agar siswa tetap dapat mengikuti proses pembelajaran.
“Jadi nanti rencananya kalau kita memang ndak diperbolehkan (menggunakan sejumlah ruang kelas) ini, kan nanti akan ditinjau terus, kita akan buat dobel sif nanti kelasnya,” jelas Efendi.
Dengan skema ini, proses pembelajaran tetap bisa berlangsung tanpa memerlukan terlalu banyak kelas. Namun, pembelajaran akan dilangsungkan dalam dua waktu yakni pagi dan siang.
“Jadi rencana kita dobel sif. kalau memang ndak bisa, mengatasinya dobel sif. waktu belajarnya dua kali pagi sama siang,” terangnya.
Ia berharap, pemangku kebijakan dapat memberi perhatian atas bangunan sekolah SMAN 1 Lingsar. Agar, siswa dan guru dapat kembali menjalankan proses pembelajaran dengan lebih aman dan nyaman.
“Kelihatannya bangunan itu bagus, karena kita cat. Tapi dalamnya itu keropos, itu tidak bisa. Makanya tim penilai (bangunan) itu harus sampai atas (periksanya),” pungkas Efendi. (sib)


