Taliwang (Suara NTB) – Menyikapi prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) telah memasuki fase musim kemarau penuh, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KSB segera mengambil langkah antisipatif. Salah satu tindakan konkret yang dilakukan adalah pengajuan penetapan status siaga kekeringan kepada Bupati.
Kepala Pelaksana BPBD KSB, Abdullah, menegaskan langkah pengajuan status siaga ini merupakan respons cepat terhadap laporan awal dari masyarakat, khususnya di Desa Seloto, Kecamatan Taliwang, yang mulai mengalami penurunan volume sumber air bersih.
“Ada laporan kekeringan dan permintaan dropping air bersih dari Desa Seloto. Menanggapi hal itu, kami sedant mengajukan status siaga kekeringan kepada Bupati sebagai langkah antisipasi,” kata Abdullah, Rabu (10/6).
Ia menjelaskan bahwa meskipun hasil asesmen lapangan menunjukkan kondisi di Desa Seloto belum masuk kategori krisis parah karena sumber air masih tersedia, pihaknya tidak menunggu hingga keadaan memburuk. Strategi utama yang dijalankan saat ini adalah persiapan logistik dan koordinasi lintas dinas untuk memastikan ketersediaan air bersih jika kebutuhan warga meningkat drastis dalam beberapa hari ke depan.
“Langkah kami masih sebatas persiapan antisipasi agar kebutuhan warga tetap terpenuhi. Kami tengah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan kesiapan logistik air bersih,” paparnya.
Selain mempersiapkan bantuan darurat, BPBD KSB juga melakukan pemetaan masalah secara spesifik di setiap lokasi. Di Desa Tano, misalnya, BPBD mengidentifikasi bahwa kelangkaan air bukan akibat faktor alam, melainkan gangguan teknis pada mesin PDAM. Dalam kasus ini, upaya antisipasi BPBD difokuskan pada koordinasi dengan pihak PDAM untuk mempercepat perbaikan infrastruktur, sembari mengimbau efisiensi penggunaan air bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan tidak parah. Mengingat kita sudah mulai masuk musim kemarau penuh, kewaspadaan dan efisiensi penggunaan air sangat diperlukan,” cetus mantan Camat Poto Tano ini.
Melalui pendekatan antisipatif ini, Abdulllah berharap pemerintah dapat meminimalisir dampak kekeringan terhadap kehidupan masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas ketersediaan air bersih selama puncak musim kemarau berlangsung. (bug)


