Inaq Haeriah (50) sibuk mengupas Pisang Kepok yang persis diletakan di depannya. Alat potong juga tidak jauh dari jangkauannya. Persis di samping kanan, wajan besar berisi minyak panas sudah siap menggoreng irisan pisang.
Di dapur sempit ini, Inaq Haeriah memproduksi segala jenis keripik. Hasil olahannya sudah banyak dipajang di rak supermarket maupun marketplace.
Inaq Haeriah telah lama menggeluti usahanya tersebut. Sekitar delapan tandan pisang atau 20 kilogram diproduksi setiap hari. Keripik pisang, pisang salai dan keripik singkong diolah sendiri. Keripik olahannya terkenal renyah, gurih, dan enak.

Inaq Haeriah menjual keripik hasil olahannya di Bumdes Bina Sejahtera Desa Kembang Kerang pada, Rabu (10/6) (suarantb.com/cem)
Keripik olahannya sangat mudah ditemukan di supermarket, bumdes, dan marketplace. “Saya jual di Madam Bakery, Bumdes, Santri Mart dan sebagian jual lewat media sosial facebook,” tuturnya pada, Rabu (10/6).
Warga Dusun Kembang Kerang Lauk Timuq Baru, Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur ini, menjalankan usaha tidak semulus yang dibayangkan. Ia harus dihadapkan dengan sulitnya mendapatkan bahan baku, harga minyak yang mahal serta drama fluktuasi harga lainnya.
Kenaikan harga minyak goreng cukup mengganggu. Ia harus memutar kepala agar tetap memproduksi keripik. Berhenti. Artinya, ia mengalah dengan keadaan. Dampaknya, langganan hilang. Kebutuhan dapur raib begitu saja.
Inaq Haeriah enggan mengalah dengan keadaan. Ia terus berjuang agar usahanya tetap eksis, dikenal masyarakat serta ketahanan ekonomi keluarga tetap terjaga. “Tetap saja produksi walaupun beli minyak Rp75 ribu,” sebutnya.
Inaq Haeriah berharap dapur sempitnya bisa berubah menjadi rumah produksi yang besar. Cita-citanya bisa memproduksi keripik lebih banyak dan memberdayakan tetangganya sebagai pekerja.
H. Subhan, suami Inaq Haeriah merasakan dampak dari produksi keripik istrinya. Penghasilan sebagai petani dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi mereka harus membiayai anaknya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Lombok Timur. “Hasil dari bertani tidak cukup,” katanya.
Keuletan serta kegigihan istrinya memproduksi keripik diapresiasi oleh Subhan. Istrinya tidak mengenal waktu untuk menghasilkan kualitas keripik yang lezat. Hasilnya dapat dirasakan sekaligus membantu ketahanan ekonomi keluarga.
Subhan mengaku dapur sempit sebagai tempat pengolahan membuat istrinya tidak leluasa memproduksi keripik dengan kapasitas lebih besar. Ia berharap dapat membangun rumah produksi keripik yang representatif, sehingga dapat membedayakan kelompok rentan. “Ada tanah di luar cukup luas. Sebenarnya cocok untuk bangun rumah produksi,” ujarnya.
Akomodir Produk UMKM
Bumdes Bina Sejahtera menjadi mitra bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Salah satunya keripik olahan Inaq Haeriah.
Direktur Bumdes Bina Sejahtera, Niswan mengaku, produk yang dijual di Bumdes merupakan hasil olahan atau produksi masyarakat setempat. Pihaknya membeli kemudian menjual kembali ke masyarakat. “Kita sistemnya bayar langsung ke pelaku UMKM,” katanya.
Usaha di bumdes cukup bergeliat. Sejak berdiri tahun 2015, Bumdes Bina Sejahtera dapat menyetor penghasilan di pemerintah desa mencapai Rp45 juta. Rata-rata pendapatan mencapai Rp20 juta per bulan. “Di akhir tahun 2025, kita menyetor keuntunn Rp45 juta,” klaimnya.
Ia berharap pelaku UMKM di Desa Kembang Kerang bisa bertambah, sehingga hasil olahan bisa dipasarkan lebih luas. (cem)


