Mataram (Suara NTB) – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5 Mataram memberikan kuota lebih untuk jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Otomotif pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya minat masyarakat terhadap kedua jurusan tersebut.
Wakil Kepala Sekolah (Waka) Bidang Kesiswaan SMKN 5 Mataram, M. Amin Saefullah, menjelaskan bahwa selain karena peminatnya melimpah, Jurusan DKV dan Otomotif merupakan jurusan unggulan di sekolah tersebut. Oleh karena itu, sekolah memutuskan untuk memberikan porsi kelas yang lebih banyak.
“Di beberapa jurusan, salah satu jurusan itu ada yang tiga kelas, ada yang dua kelas. Kayak DKV itu tiga kelas rencananya. Kalau TSM (teknik sepeda motor) dua kelas,” ujar Amin, Kamis (11/6).
Tahun ini, SMKN 5 Mataram membuka daya tampung total sebanyak 19 rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas sekitar 680 siswa. Dari belasan rombel tersebut, jurusan DKV dialokasikan sebanyak tiga kelas, sedangkan Teknik Sepeda Motor (TSM) mendapatkan alokasi dua kelas.
Untuk proses seleksinya, penerimaan siswa baru pada jenjang SMK tahun ini dibuka melalui beberapa jalur resmi, antara lain: Jalur Domisili, Jalur Afirmasi, dan Jalur Rapor.
Hingga saat ini, jumlah calon siswa yang mendaftar di SMKN 5 Mataram sudah mencapai 400 orang. Amin merasa optimis kuota keseluruhan akan terpenuhi, mengingat masih ada waktu pendaftaran serta beberapa jalur seleksi yang belum dibuka.
“Nah, yang baru daftar sekitar 400, artinya masih ada ruang sampai dengan tanggal 9 Juli nanti pas jalur rapor itu. Masih ada sekitar 280 (kuota) yang kita bisa terima untuk siswa baru. Karena 400 ini sudah terpenuhi kan,” jelasnya.
Amin berharap pelaksanaan SPMB di SMKN 5 Mataram dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan kondusif. Terpenuhinya kuota siswa baru ini dinilai sangat krusial karena berkaitan langsung dengan stabilitas jam mengajar para guru di sekolah.
“Harapannya, karena siswa itu menentukan jumlah jam guru juga. Kalau sedikit kita dapat siswa itu jelas takutnya jumlah jam porsi jam guru mengajar itu kan berkurang. Itu berpengaruh juga sama sertifikasi nanti. Nah untuk itu kita berusaha untuk mencapai kuota yang kita harapkan,” pungkasnya. (sib)


