Suasana berbeda terlihat di SDN 2 Pohgading, Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari luar terlihat jelas bangunan berwarna biru menyala. Ruang kelas ini sedikit mencolok dibandingkan ruangan lainnya. Bangunan terlihat mewah dengan arsitektur sedikit modern.
Empat ruang kelas ini dibangun dengan bahan dasar plastik. Plastik-plastik ini disusun menyerupai puzzle, sehingga menjadi ruang kelas yang mewah. Ada hal yang penting perlu diketahui bahwa plastik yang digunakan membangun kelas ini ramah lingkungan dan anti guncangan alias tahan gempa.

Perwakilan Classrom of Hope, Rachael Conroy menjelaskan proses pembangunan SDN 2 Pohgading serta program yang dijalankan di Lombok.
Di tahun 2018, SDN 2 Pohgading menjadi salah satu sekolah yang mengalami rusak akibat gempa. Peserta didik harus kehilangan tempat belajar. Ruang kelas darurat dibangun agar siswa tetap mendapatkan ilmu. Sederhana. Mungkin saja tidak nyaman sebagai tempat belajar.
Classroom of Hope sebagai organisasi nirlaba yang terdaftar di Australia mengintervensi dengan membangun rumah kelas. Bantuan ini merupakan kerja sama dengan Pemerintah Australia. Empat ruang kelas dan kamar mandi dibangun menggunakan bahan dasar plastik.
Bangun ini sangat kokoh. Proses pembangunan sangat mudah dan membutuhkan waktu cukup singkat. Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan relatif besar dibandingkan menyusun batu bata. Satu ruang kelas dengan furniture diperkirakan menghabiskan dana Rp308 juta. “Kalau dihitung kurs rupiah sekitar Rp300 juta lebih,” sebut Satriawan Amri Perwakilan Classroom of Hope.
Biaya yang mahal karena material harus didatangkan dari Pulau Jawa. Padahal, Lombok juga berpeluang memproduksi blok plastik daur ulang yang inovatif. Akan tetapi, keterbatasan alat sehingga untuk memproduksi butiran-butiran plastik material kembali harus dikirim ke Surabaya. Butiran plastik ini kemudian diolah menjadi blok plastik. “Di Lombok sudah ada yang memproduksi, tetapi butiran plastik harus didatangkan dari Surabaya,” katanya.
Satria memastikan ruang kelas SDN 2 Pohgading yang dibangun oleh Clasroom of Hope berbahan ramah lingkungan. Material plastik dipilih tidak mengandung zat berbahaya seperti botol plastik dan lain sebagainya.
Uniknya blok plastik ini mudah dibongkar pasang. Artinya, jika sekolah ingin memindahkan ruang kelas tinggal membuka baut yang terpasang di dalam blok plastik. “Misalnya, ada pembangunan kemudian mau digeser tinggal dibuka saja baut-bautnya,” katanya.
Sebelum proses pembangunan lanjutnya, pihaknya mensosialisasikan kepada wali murid, kepala sekolah, komite, guru serta masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah. Ruang kelas dikhawatirkan terbakar karena dibangun dari plastik. “Sebenarnya tidak ada bangunan kebal api, tetapi kita sudah sosialisasikan supaya tidak boleh bakar sampah atau menyalakan api di dekat ruang kelas,” katanya mengingatkan.
Bantuan dari Australia
Kepala SDN 2 Pohgading, Rusman bersyukur mendapatkan bantuan pembangunan empat ruang kelas belajar dan satu kamar mandi dari Australia melalui Classroom of Hope. Hal ini dinilai sangat membantu menyelesaikan masalah, sehingga siswa-siswi tidak lagi belajar di kelas darurat. “Alhamdulillah, kita bersyukur ada bantuan langsung dari Australia bangunan seperti ini,” ucapnya.
Rusman menceritakan ruang kelas rusak akibat dampak gempa berkekuatan 7 skala richter pada tahun 2018. Dampaknya, siswa-siswi tidak memiliki ruang kelas belajar. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswen terketuk hatinya membangun membangun ruang kelas darurat. Pasca ruang kelas terbangun siswa-siswi belajar dengan tenang, nyaman, dan lebih fokus.
Rusman menyebutkan, siswa di SDN 2 Pohgading mencapai 350 anak. Empat ruang kelas ini akan diprioritaskan bagi kelas dengan jumlah siswa minim. “Saya sudah minta guru-guru untuk menempati ruang kelas dengan jumlah murid yang sedikit,” katanya.
Sebelum proses pembangunan ruang kelas berbahan plastik, ia sempat ragu dengan kualitas serta kekuatan bangunan. Setelah mulai dikerjakan dan uji coba ternyata material sangat kuat, ramah lingkungan dan dipastikan tahan gempa. Ia melihat penyusunan satu demi satu eco-blocks atau balok plastik menggunakan baut,sehingga strukturnya kuat. “Sementara ini bangunan ini terbaik dan kokoh,” katanya.
Fokus Empat Program
Classrom of Hope tidak hanya fokus membantu membangun sekolah,melainkan juga fokus pada program lainnya. Sebagai organisasi nirlaba yang terdaftar di Australia dan didirikan pada tahun 2012, Clasroom of Hope berupaya meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas di komunitas yang terkena bencana.
Program yang dilaksanakan Classroom of Hope diijelaskan Rachael Conroy diantaranya, Block School Infrastructure. Pihaknya membangun sekolah yang berkelanjutan dan tahan gempa dengan menggunakan teknologi blok plastik daur ulang yang inovatif. Sekolah dapat dibangun secara efisien sekaligus mengurangi sampah plastik dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Kedua, Pendidikan Ekstrakurikuler untuk Pengembangan Masyarakat. Fokusnya
adalah meyakini bahwa pendidikan transformative tidak hanya terjadi dalam ruang kelas. Artinya, konusltasi mendalam dengan masyarakat dan penilaian berdasarkan kebutuhan, program pendidikan peningkatan masyarakat dirancang untuk mengatasi tantangan sosial dan pendidikan yang lebih luas. “Program tersebut meliputi inisiatif pengelolaan sampah, peningkatan kesadaran haka nak, pencegahan pernikahan dni dan pemberdayaan Bahasa Inggris,” jelasya.
Ketiga sebut Rachael, pencegahan pernikahan dini. Fokusnya pada penelitian bekerja sama dengan Universitas Adelaide, Classroom of Hope telah mengidentifikasi bahwa meskipun sekolah yang aman dapat meningkatkn belajar bagi semua anak, banyak anak perempuan di Lombok masih menghadapi hambatan signifikan dalam melanjutkan pendidikan mereka
Kegiatan keempat adalah kolaboratif dan dampak jangka panjang. Classroom of Hope bekerja sama dengan sekolah, masyarakat, LSM lokal, peneliti, dan pemangku kepentingan untuk membantu meningkatkan hasil pendidikan jangka panjang bag anak-anak di Lombok. “Kami membangun kemitraan dengan organisasi masyarakat, HHI, GNI, pemerintah desa, instansi teknis dan lain sebagainya,” demikian kata dia. (cem)

