BerandaEKONOMIMelepas Rindu di Tanah Suci

Melepas Rindu di Tanah Suci

Allah menjawab rindu yang teramat dalam. Rindu yang tertanam dalam keyakinan, sejak kecil. Ya, Baitullah. Tempat yang dirindukan jutaan, bahkan miliaran ummat Islam dunia.

Siang itu saya di kamar mandi. Bersiap menunaikan salat zuhur. Ponsel yang saya bawa ke kamar mandi tiba-tiba berdering. Saya buru-buru mengangkatnya. Terdengar suara Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Bali Nusra, H. Zamroni.

Setelah mengucapkan salam, ia langsung bertanya.

“Bro, jadi umrah? Ada harga spesial. Berangkat tiga hari lagi. Kalau mau ikut, siapkan semua dokumennya,” katanya.

Tiga hari lagi. Saya kaget. Kalimat itu seperti menghentikan waktu. Saya terdiam beberapa saat. Tak berpikir panjang, saya spontan jawab.

“Iya, saya ikut.”

Telepon ditutup. Saya masih berdiri. Tubuh terasa lemas. Air mata tiba-tiba mengucur dari kelopaknya. Di kamar mandi itu saya menangis. Sesenggukan. Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan sesuatu yang selama ini ia impikan.

“Ya Allah… benarkah?”

“Saya akan ke Tanah Suci, saya jadi umrah?”

Tangis haru. Kerinduan kepada Baitullah akhirnya menemukan jalannya. Baitullah adalah mimpi hampir setiap muslim dunia. Tanpa kecuali saya. Sejak kecil saya membayangkan bisa datang ke Makkah dan Madinah. Kerinduan itu akan membuncah, apalagi saat musim pemberangkatan haji.

Lantunan qasidah tentang haji dan Tanah Suci, selalu menghanyutkan. Merindukan sebagai jemaah haji.

Akhirnya, kerinduan saya akan terkabul. Bisa berdiri di depan makam Rasulullah SAW. Bisa bersujud di Masjid Nabawi. Bisa melihat langsung tempat-tempat yang selama ini hanya saya dengar dari ceramah, buku, dan kisah-kisah sejarah Islam. Tanah Suci yang selama ini saya sangat merasa dekat. Meskipun begitu jauhnya.  Dan siang itu Allah menjawabnya.

Tangisan saya rupanya terdengar hingga ke luar kamar mandi. Istri saya datang senada kaget.

“Ada apa?”

Dengan suara berat, saya menjawab.

“Saya jadi umrah.”

Istri saya langsung memeluk saya.

“Alhamdulillah. Persiapkan saja semuanya. Akhirnya Allah mengabulkan mimpi sejak lama kan?” katanya.

Tangannya mengusap punggung saya. saya merasakan istri saya ikut terharu. Pelukannya menenangkan. Menguatkan, dan memberikan semangat penuh untuk berangkat umrah. Perjalanan suci yang bukan hanya mimpi saya. Tetapi juga doa keluarga yang selama ini terus dipanjatkan.

Persiapan hanya dua hari. Tanggal 10 Februari 2026 jadwal berangkat. Waktu yang sangat singkat. Namun semuanya harus dipenuhi. Syukurnya, paspor saya masih aktif, meski masa berlakunya tinggal beberapa bulan.

Mengurus suntik vaksin meningitis. Menyiapkan perlengkapan dan kebutuhan. Membeli kebutuhan obat-obatan. Menyiapkan pakaian. Menyiapkan berbagai dokumen perjalanan.

Hari-hari itu rasanya seperti mengikuti maraton. Saya dan istri berkejaran dengan waktu. Belum lagi harus ziarah ke makam orang tua. Memohon ampun, dan memohon izin, anaknya akhirnya bisa membuka jalan menuju Baitullah.

Anehnya, setiap urusan terasa dimudahkan. Nyaris tanpa hambatan. Seolah Allah sedang membuka jalan satu demi satu. Itulah cara Tuhan, kepada siapa yang Ia kehendaki.

Tanggal keberangkatan tiba. Pagi itu saya diantar istri dan keluarga menuju Bandara Internasional Lombok.

Ada tradisi yang begitu kuat terjaga. Siapa pun yang berangkat umrah atau haji, seperti kewajiban diantar keluarga sampai ke pintu bandara. Kakak perempuan saya bilang, bagaimana perasaan saya, kalau kamu berangkat ke Makkah, tanpa kami antar, katanya saat saya larang mengantar.

Sebenarnya ini bukan sekadar melepas keberangkatan. Tetapi mengiringinya dengan doa. Saya merasakan itu pagi itu. Tatapan haru. Pelukan. Doa-doa yang diucapkan lirih. Paman, bibi, saudara, tentu anak, dan istri. Semuanya mengiringi langkah menuju pesawat.

Perjalanan suci dimulai. Bismillah.  Terbang Lombok menuju Kuala Lumpur tiga jam. Transit di Malaysia. Lalu dari Kuala Lumpur menuju Arab Saudi dengan penerbangan sekitar sembilan jam.

Semakin dekat Arab Saudi, semakin sulit memejamkan mata. Apalagi, ketika pesawat mulai melintasi Jazirah Arab, saya terus menempelkan wajah ke jendela. Saya tidak ingin melewatkan satu detik pun momen perjalanan.

Dari udara, terlihat gemerlapnya bumi Jeddah. Seperti siang hari. Padahal, waktu sedang dini hari.

Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional King Abdulaziz (KAIA) di Jeddah. Dada bergetar, begitu kaki menyentuh bumi Arab Saudi. Perasaan haru dan bahagia itu sulit dijelaskan.

Ya, akhirnya saya di Jazirah Arab. Tanah tempat para nabi. Tanah tempat Islam lahir. Tanah yang selama ini selalu saya rindukan dari kejauhan. Dari sambungan video call, saya kemudian menyampaikan kabar kepada istri saya.

“Alhamdulillah, saya sudah sampai,”

Saya ingin orang-orang yang saya cintai ikut merasakan kebahagiaan saya saat itu.

Didukung jaringan telekomunikasi sangat lancar. Paket roaming Telkomsel langsung aktif otomatis. Komunikasi dengan orang-orang tercinta, di tanah air tersambung tanpa hambatan. Saya terus mengabarkan setiap momen kepada keluarga. Bahkan kepada kantor. Semua momen, tak lekang saya bagikan. Kerja-kerja jurnalistik untuk kantor juga tetap saya jalankan.

Perlu waktu lebih dari dua jam dari bandara di Jeddah menuju hotel. Kami menempuh perjalanan dengan bus.

Di samping saya di kursi depan bus, pasangan suami istri tampak gelisah. Mereka kesulitan menghubungi keluarganya di Indonesia. Tiga ponsel yang mereka gunakan nyaris tidak mendapatkan sinyal. Video call tidak tersambung. Sang istri tampak cemas ingin mengetahui kabar anaknya. Nampaknya ia juga ingin berbagi setiap momen, kepada keluarganya. Seperti yang saya lakukan. Lalu saya berseloroh.

“Harusnya pakai kartu Telkomsel, mewakili negara yang bisa hadir di mana saja”

Mungkin dengan berat hati, suaminya meminta bantu dibagikan koneksi internet (tethering) dari ponsel saya. Sinyal penuh empat bar Telkomsel di hape saya, sangat membantu.

Kata VP Halo Product Marketing and Engagement Service Telkomsel, Danang Andrianto, Telkomsel menghadirkan layanan roaming melalui kerja sama dengan operator STC, Mobily, dan Zain di Arab Saudi, termasuk dukungan jaringan 5G agar jemaah dapat tetap terhubung dengan keluarga selama menjalankan ibadah. Urusan sinyal, biar Telkomsel yang jaga.

Tiba di Madinah, mutawwif langsung mengajak rombongan bersiap menuju Masjid Nabawi. Jantung saya berdegup lebih cepat. Memasuki kawasan masjid, air mata diam-diam membasahi wajah saya. Tidak ada kata yang bisa keluar. Selain syukur, bersujud kepada Allah. Sangat menenangkan. Semua terasa begitu agung.

Masjid yang selama ini saya dan semua orang impikan. Di sana tempat dimakamkannya Rasulullah SAW dan dua sahabat terbaiknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Kebahagian itu terasa sempurna. Apalagi berziarah langsung ke komplek makam Rasul, kamar mungil yang dulunya menjadi tempat tinggal istri Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Aisyah RA, suara serasa hilang. Hanya bibir yang bergetar, dan air mata yang terus berurai. Sembari menyampaikan salam.

“Assalamualaikum ya Rasulullah.”

Di sini doa dipanjatkan. Bersama umat dari berbagai belahan dunia. Kesempatan ini teramat mahal dilewatkan, kepada istri, dan keluarga, saya mengajak mereka ikut bersalawat, ikut mengirim salam. Ikut berdoa dari kejauhan. Melalui sambungan telephone.

Berikutnya adalah mengunjungi Raudhah. Tidak mudah bisa masuk. Jemaah harus memiliki izin melalui kartu Nusuk. Antrean sangat panjang. Berdesakan. Berjam-jam menunggu. Rombongan kami akhirnya bisa masuk. Lalu bersujud. Salat dan berdoa di tempat yang disebut Rasulullah sebagai taman surga. Dari Raudhah, tak lupa saya tetap mengajak keluarga untuk ikut hadir. Berdoa, dan bermunajat tanpa sekat dari panggilan video telepon seperti tanpa sekat jarak.

Empat hari berada di Madinah terasa sangat singkat. Tiba saatnya menuju Makkah.

Perjalanan ditempuh sekitar enam jam menggunakan bus. Sepanjang perjalanan, pemandangan adalah lekuk gunung-gunung perkasa dan tandus. Padang pasir. Tower-tower listrik. Jaringan kabel yang membentang jauh. Dan kendaraan yang lalu lalang sangat lancar.

Saya terus memandang ke luar jendela. Tidak ingin mengedipkan mata meninggalkan setiap momen. Karena setiap jengkal tanah Arab terasa begitu bersejarah. Seperti sedang menyaksikan lembaran-lembaran kisah zaman kenabian di depan mata.

Video call kepada keluarga tak pernah terputus. Saya ingin mereka ikut menjadi bagian dari perjalanan ini. Ikut merasakan atmosfernya menuju Makkah.

Menjelang malam, mutawwif berdiri di depan bus. Suaranya terdengar pelan.

“Jemaah, sebentar lagi kita memasuki Tanah Suci Makkah.”

Kalimat itu membuat suasana bus mendadak hening. Saya menundukkan kepala. Air mata kembali mengalir. Berjam-jam perjalanan terasa seperti berhenti. Dalam hati saya hanya mengucapkan syukur. Allah, akhirnya izinkan saya sampai di Makkah.

Talbiyah kemudian menggema lagi di dalam bus. Labbaikallahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. La syarika lak.Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu”.

Dari jalan di kejauhan, sudah terlihat bangunan menara jam, cahayanya hijau sangat terang seperti membelah langit malam. Itu Menara Zamzam. Menjulang tinggi di langit Makkah. Menjadi penanda bahwa Masjidil Haram sudah dekat.

Saya tidak mampu menahan air mata. Semakin dekat. Semakin deras. Benar-benar terharu. Pada akhirnya, waktu datang untuk melaksanakan rangkaian ibadah umrah di Masjidil Haram. 

Ka’bah benar-benar nyata, terlihat di depan mata. Rasanya, seluruh perjalanan hidup saya berhenti sejenak. Inilah rumah Allah. Yang setiap hari saya hadapi dalam salat. Yang setiap kesempatan saya sebut dalam doa. Yang dirindukan ummat Islam dunia.

Saya menangis. Ditengah rombongan. Sembari mengikuti mutawwif. Sholat, tawaf, sa`i mulai dilaksanakan.  Allah benar-benar mengizinkan saya beribadah di tempat suci ini.

Ragam rupa manusia, tertuju fokus ibadah. Kesibukan duniawi sepertinya terhenti. Semua berlomba-lomba beribadah. Kembali saya menghadirkan keluarga, menyampaikan kabar, saya di depan Ka`bah. Kemudian mengajak semuanya berdoa, dari panggilan video telephone. 

Hari-hari di Makkah dan Madinah akhirnya akan berlalu. Tetapi ada satu pelajaran besar yang saya bawa pulang. Bahwa, perjalanan ke Tanah Suci bukan semata soal uang. Bukan semata soal kesiapan. Bukan pula soal kemampuan.

Percayalah pada kalimat agung. Ke Tanah Suci itu Allah tidak memanggil orang yang mampu. Tapi Allah memampukan orang yang mau. (Bulkaino)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO