Ruang kelas 3A SDN 1 Teros, Desa Teros, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, terlihat tenang. Sekitar 20 peserta didik dibagi menjadi empat kelompok. Sementara, Miftahul Jannah, guru kelas sibuk mondar-mandir membagikan amplop berisi gambar sambil menjelaskan tugas yang akan dikerjakan muridnya.
Diantara 20 siswa kelas 3A, terlihat 2 orang siswa terlihat diam. Sesekali, mereka memilih gambar untuk ditempel di kertas tugas. Tetapi, ada yang sedikit berbeda dibandingkan peserta didik lainnya. Dua orang siswa itu tidak banyak bicara dan tidak terlalu aktif seperti teman-temannya. Ternyata mereka diketahui memiliki keterbatasan hambatan belajar. Bukan saja di kelas 3A, tetapi di kelas 2 juga ditemukan kasus serupa. Anak berkebutuhan khusus tidak bisa dipaksakan untuk memahami pembelajaran dengan cepat, sehingga metode pembelajaran perlu didesain oleh guru.

Kepala SDN 1 Teros, Benny Sastra Dwipa menyambut kedatangan Konsul Jenderal Australia di Bali, Jo Steven di SDN 1 Teros, , Desa Teros, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur.
Kurota Ayuni, guru kelas 2 SDN 1 Teros menyebutkan, secara keseluruhan siswa yang diajar berjumlah 24 orang. Tiga siswa diantaranya memiliki hambatan fungsional belajar atau Functional Learning Difficulties. Dari tiga siswa ternyata satu orang memiliki hambatan melihat dan dua orang hambatan fungsional belajar.
Awalnya, ia tidak mengetahui kondisi siswanya. Keengganan untuk belajar dan tidak aktif mengerjakan tugas dianggap hal biasa. Pasca dilakukan observasi dan dilakukan pemeriksaan oleh psikolog ternyata disimpulkan fungsi intelektual anak di bawah rata-rata. Artinya, dua muridnya itu berkembang lambat dibandingkan teman-teman lainnya. “Kalau satu orang siswa gangguan penglihatan sudah mendapatkan bantuan kaca mata. Sekarang dapat melihat dengan jelas,” terangnya.
Ayuni bersyukur program kemitraan antara Pemerintah Australia dengan Indonesia dalam program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) di SDN 1 Teros, memberikan dampak yang luar biasa. Pelatihan yang diikuti membuatnya percaya diri mendampingi murid yang memiliki hambatan belajar. Pasca pelatihan, ia menerapkan metode pembelajaran diferensiasi atau metode pembelajaran dengan melakukan pendekatan instruksional. Guru menyesuaikan metode, teori dan penilaian untuk merespon keberagaman siswa berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar siswa. “Dengan adanya pelatihan dari INOVASI, saya merasa percaya diri mendampingi dan mengajar anak yang memiliki hambatan belajar,” terangnya.
Anak yang memiliki keterbatasan ini diakui, rentan terhadap perundungan atau bullying. Ayuni berupaya mengedukasi siswa lainnya agar tidak melakukan perundungan dan memberikan nasehat. Selain itu, siswa dibuat kesepakatan agar saling menjaga.
Kepala SDN 1 Teros, Benny Sastra Dwipa mengaku setiap tahun menerima murid dengan berkebutuhan khusus. Jumlah anak yang memiliki hambatan belajar mencapai 59 siswa. Akan tetapi, ia bersyukur dengan adanya program INOVASI. Artinya, program kemitraan antara Pemerintah Australia dengan Indonesia di bidang pendidikan dasar, cukup membantu sekolah menghadapi siswa dengan hambatan belajar tersebut.
Guru yang dilatih dapat menerapkan sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa yang memiliki hambatan belajar. “Kita memang harus menggabung anak yang memiliki hambatan belajar dengan siswa normal. Tujuannya supaya anak dengan hambatan belajar ikut aktif,” kata Benny.
Perilaku Siswa Berubah
Intervensi yang dilakukan terhadap anak dengan hambatan belajar melalui program INOVASI memiliki dampak positif bagi orang tua. Handra Wandriati, nenek dari AS siswa kelas 3 menceritakan awalnya tidak mengetahui kondisi cucunya. Ia kesulitan membujuk AS untuk sekolah. Tugas sekolah tidak pernah dikerjakan. Sempat putus asa. Akhirnya, sekolah memberikan kabar baik bagi Handra. “Saya diajak diskusi oleh sekolah untuk mengikuti program untuk perkembangan cucunya,” katanya.
Setelah dilakukan pendampingan perlahan terjadi perubahan pada cucunya. AS akhirnya berubah dengan rajin belajar dan sekolah. Handra tidak repot lagi mengantar dan menjaga cucu setiap hari di sekolah. Ia berharap program ini terus berjalan, sehingga banyak generasi bangsa yang dapat diselamatkan.
Lakukan Assesment
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur, Baiq Suriatun menyampaikan, tantangan yang dihadapi pada anak dengan hambatan belajar adalah belum optimalnya penanganan dalam pembelajaran. Sekitar 50 persen siswa tidak tinggal bersama orang tua, melainkan tinggal bersama nenek atau bibinya.
Pihaknya berupaya melakukan assesment awal kemampuan siswa menggunakan aplikasi profile belajar siswa. Dari hasil assesment ternyata 59 sisw di SDN 1 Teros teridentifikasi memiliki hambatan belajar. “Setelah kita assesment ditemukan 59 siswa memiliki hambatan belajar,” jelasnya.
Pihaknya mendorong agar guru menerapkan pembelajaran diferensiasi. Meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan, mendampingi saat proses skrining serta memaksimalkan peranan ekosistem belajar.
Ia bersyukur dukungan INOVASI memfasilitasi program kemitraan dengan berbagai pihak. INOVASI juga banyak membantu meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan dan lain sebagainya.
Sekolah Inklusi Menuju Desa Inklusi
Kondisi yang ditemukan di SDN 1 Teros yakni, siswa memiliki hambatan belajar juga menjadi tanggung jawab pemerintah desa untuk menciptakan sekolah inklusi menuju desa inklusi. Beban dihadapi sekolah harus dikeroyok bersama untuk menciptakan generasi emas.
Sekretaris Desa Teros, Muhyidin mengatakan, Pemerintah Desa Teros memiliki program desa inklusi. Temuan di SDN 1 Teros juga menjadi tanggung jawab pemerintah desa untuk memastikan generasi muda mendapatkan akses pendidikan, sehingga siswa yang memiliki hambatan belajar tidak dijadikan beban. “Kita akan membantu SDN 1 Teros menjadi sekolah inklusi,” katanya.
Kebijakan pemerintah desa memberikan penganggaran melalui bantuan sosial kepada anak yang memiliki hambatan belajar. Komitmen ini akan disusun melalui rencana kerja pemerintah desa, sehingga perlu berkoordinasi dengan sekolah untuk menyampaikan kebutuhannya. “Kita akan libatkan sekolah dalam penyusunan rancangan anggaran,” demikian kata dia. (cem)

