BerandaNTBMembumikan Ecotheology: Catatan Aktual dari Majelis VIII KTIQ pada MTQ Ke-XXXI NTB

Membumikan Ecotheology: Catatan Aktual dari Majelis VIII KTIQ pada MTQ Ke-XXXI NTB

Oleh: Dr. Syafril

(Anggota Dewan Pengawas Perhakiman MTQ XXXI NTB)

Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak sekadar menjadi panggung kompetisi lantunan ayat suci, melainkan juga episentrum dialektika intelektual Islam yang sangat progresif. Salah satu titik paling krusial dan menarik perhatian dalam perhelatan MTQ ke XXXI Tk. Provinsi yang dipusatkan di Praya Lombok Tengah berada di Majelis VIII yang membidangi Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ).

Melalui tema-tema yang diangkat, Majelis VIII berhasil membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks eskatologis yang berbicara tentang masa lalu atau akhirat semata, melainkan sebuah kompas hidup yang sangat responsif terhadap tantangan zaman modern.

Isu Global dan Urgensi Konstektual

Tema lingkungan hidup yang menjadi salah satu tema sentral dalam perlombaan di Majelis VIII tergolong sangat aktual dan strategis. Dikatakan demikian karena saat ini, perilaku tidak ramah ekologis–mulai dari perilaku deforestrasi, penggunaan karbon dan energi berleboh (protol Kyoto, 2005), over industrialized, over populated, hingga degradasi keanekaragaman hayati–telah menjelma menjadi isu global yang menyita perhatian seluruh negara di dunia. Isu global sebagai dampak dari perilaku anomaly pada lingkungan tersebut antara lain perubahan iklim, kenaikan suhu muka bumi (global warming), kenaikan garis Pantai, pamanasan laut, el nino dan la nina, bencana hidrometeorolgis, kehilangan ozon/menipisntya lapisan ozon, dan berbagai bentuk masalah masalah lingkungan global.

Langkah panitia dan dewan hakim MTQ ke-XXXI Provinsi NTB dalam meletakkan permasalah lingkungan ini sebagai poros perlombaan dalam Majelis 8 KTIQ patut diapresiasi tinggi. Ini adalah bentuk ijtihad kultural yang menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh menutup mata dari kehancuran ekosistem yang sedang berlangsung di depan mata.

Meruntuhkan Dikotomi Sains dan Agama

Selama berabad-abad, pendekatan dan pengkajian terhadap lingkungan hidup didominasi oleh diskursus empiris-sains modern. Sayangnya, pendekatan ini kerap kali terkesan mekanistis, sekuler, dan mengalami dikotomi akut dengan nilai-nilai agama. Alam hanya dilihat sebagai objek material yang bebas dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi (paradigma antroposentris), tanpa ada beban moral-spiritual. Padahal antara alam dan nilai dan moral mestinya suatu yang padu dan tidak dapat dipisahkan.

Di sinilah letak lompatan berpikir yang ditawarkan pada MTQ ke-XXXI Provinsi NTB. Melalui karya-karya ilmiah yang dituliskan, para peserta dituntut untuk mendudukkan hubungan antara sains dan agama sebagai suatu kesatuan yang padu (integratif). Agama sebagai pembentuk basis moral, etika, dan spiritual (eco-theology), sementara sains menyediakan metodologi, data, dan instrumen empiris untuk mengeksekusi pesan-pesan kelestarian tersebut.

Ketika ayat-ayat kauniyah (alam semesta) disandingkan dengan ayat-ayat qauliyah (teks Al-Qur’an), yang lahir bukan lagi perdebatan mana yang lebih unggul, melainkan sebuah solusi konkret berbasis sains yang direstui oleh ketetapan Tuhan.

Mengedukasi Generasi Muslim Masa Kini

Menampilkan isu lingkungan hidup di panggung KTIQ juga membawa misi kaderisasi yang sangat vital. Generasi muslim masa kini, atau yang akrab disebut generasi muda islami, dituntut untuk memiliki kesadaran ekologis yang tinggi (eco-literacy). Ada 20 peserta yang merupakan utusan dari masing-masing kabupaten dan kota se Nusa Tenggara Barat – semua peserta tergolong usia remaja. Tentu saja, mereka akan menjadi agen bagi teman-teman seusiannya untuk berdiskusi, menulis, sosialisasi, dan bahkan mengajarkan bahwa science and Religion bukan suatu yang terpisah, melainkan suatu yang padu (Tsi, 1983; Abdullan, 2010; dan L. Palls, 2007).

Melalui mimbar Majelis VIII, pesan kuat dikirimkan kepada generasi muda: menjadi muslim yang kaffah hari ini berarti juga menjadi penyelamat bumi. Menjaga lingkungan bukan lagi sekadar urusan aktivis sosial, melainkan sebuah manifestasi dari tugas manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) yang bertanggung jawab atas kemakmuran dan keberlanjutan alam. Jangan sampai kekhawatiran dari seorang anak berusia 12 tahun bernama Svern Suzuki yang berbicara di depan forum PBB pada 20 tahun yang lalu menjadi nyata. Para generasi baru menikmati kesengsaraan lingkungan yang diitinggalkan oleh generasi tua terdahulu. Nauzubillahi minzalik.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Majelis VIII KTIQ pada MTQ ke-XXXI Provinsi NTB telah berhasil menaikkan kelas kompetisi ini dari sekadar seremoni keagamaan menjadi sebuah gerakan pemikiran. Integrasi apik antara sains dan agama dalam mengulas isu lingkungan membuktikan bahwa Islam senantiasa membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Semoga gagasan-gagasan brilian yang lahir dari para pemikir muda di Majelis VIII ini tidak berhenti di atas kertas, melainkan mampu ditransformasikan menjadi kebijakan nyata demi lestarinya alam Bumi Gora dan Indonesia.

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO