Giri Menang (Suara NTB) – Sejumlah desa di Lombok Barat (Lobar) mengembangkan ketahanan pangan berupa peternakan ayam petelur dari anggaran program Desa Berdaya. Program dari Pemprov NTB ini untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dan kemandirian ekonomi desa dengan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Program ini juga diharapkan bisa mendukung Makan Gizi Gratis (MBG) berkolaborasi dengan Kopdeskel. Kepala Desa Cendimanik H. Mahdi mengatakan, pihaknya mendapatkan anggaran Rp300 juta dari program Desa Berdaya Pemprov NTB. Di wilayah Sekotong, saat ini hanya empat desa memperoleh program ini, yakni Desa Cendimanik, Buwun Mas, Pelangan, dan Batu Putih.
“Kami pakai untuk pengembangan peternakan ayam petelur, dikelola oleh desa,” kata KDM panggilan Kades Cendimanik ini, kepada Suara NTB beberapa waktu lalu.
Kandang ayam petelur pun telah selesai dibangun, berkapasitas 15.000 ekor. Ayam petelur ini nantinya dihajatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama warga miskin. Dari hasil peternakan ayam petelur ini, ia memperkirakan bisa memperoleh Rp20 juta per bulan.
Program desa berdaya ini dikolaborasikan dengan ketahanan pangan yang bersumber dari dana desa, sehingga bisa dibangun dua kandang dan beli bibit ayam petelur, masing-masing kapasitas 1.000 ekor dan 500 ekor. “Kalau dari ketahanan angan itu 500 ekor, dan desa berdaya itu 1.000 ekor,” sebutnya.
Rencananya kandang itu diisi bibit pada akhir Juni mendatang. Pihaknya menargetkan peternakan ayam petelur ini mencapai 5.000 ekor.
Kepala Desa Batulayar, Masnun mengatakan, pihaknya mendapatkan program Tematik Desa Berdaya. Program ini dinilai bermanfaat bagi desa untuk menambah PADes. Program ini diintegrasikan dengan ketahanan pangan dari dana desa untuk budi daya ayam petelur.
“Nanti dari hasil budi daya ayam petelur ini kita kumpulkan akan kami berikan kepada masyarakat yang betul-betul tidak mampu, sesuai arahan pak Gubernur akan diberikan pada warga Desil 1 sampai Desil 2,” ujarnya.
Ia tak memungkiri, anggaran ini diperoleh desanya karena termasuk dalam desa miskin ekstrem. Jumlah miskin ekstrem di desanya lumayan tinggi mencapai 200 KK. “Sehingga atas dasar itu, kami di Desa Batulayar diberikan program desa berdaya ini,” imbuhnya.
Besaran anggaran program Desa Berdaya ini senilai Rp300 juta itu, diarahkan untuk tiga item, di antaranya jalan usaha tani, peternakan dan pariwisata. Pihaknya sendiri menggunakan anggaran itu untuk peternakan ayam petelur, diintegrasikan dengan ayam pejantan yang dianggarkan dari DD.
Sementara itu, Kades Beleka Islahudin, mengatakan bahwa desanya menjadi salah satu desa yang terpilih mendapatkan program desa berdaya. “Ketentuannya sudah jelas, bahwa ini (program desa berdaya) untuk meningkatkan kemandirian ekonomi terutama di lokal desa,” jelasnya.
Di tengah kondisi pemangkasan anggaran dari pusat, ia berpikir keras bagaimana desa bisa mendapatkan PADes. Pihaknya pun mengarahkan program desa berdaya ini untuk ketahanan pangan. “Pengembangan ayam petelur,” imbuhnya.
Peternakan ayam petelur ini nanti dikelola oleh BUMDES, dan desa akan memperoleh PADes dari situ. Program desa berdaya ini ada dua jenis, yakni tematik dan transpormatif. Penanganan miskin ekstrem lebih pada desa berdaya transpormatif sedangkan tematik mengarah pada program ketahanan pangan untuk kemandirian ekonomi desa.
Selain itu, Ketua Forum Kades Kecamatan Gerung ini berterimakasih atas program Rp1 miliar per desa dari Pemkab Lobar. Program ini dirasakan sangat membantu desa dalam program pembangunan yang tak ter-cover akibat pemangkasan dana desa.
Ia mengaku, sebagai pengurus organisasi desa di level nasional, program ini cukup menjadi perhatian dan diperbicangkan desa-desa di Indonesia. Apalagi di tengah pemerintah pusat belum ada sinyal mengembalikan porsi DD seperti sedia kala atau normal kembali. (her)

