BerandaNTBKOTA MATARAMTingginya Harga BBM jadi Tantangan Mendorong Ekspor Komoditas Perikanan Tangkap

Tingginya Harga BBM jadi Tantangan Mendorong Ekspor Komoditas Perikanan Tangkap

Mataram (Suara NTB) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ekspor komoditas perikanan dari NTB. Namun, di sisi lain, tingginya biaya operasional nelayan dan pelaku usaha perikanan, terutama akibat penggunaan BBM industri, masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.


Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, H. Muslim, ST., M.Si., mengatakan peluang ekspor komoditas perikanan NTB sebenarnya cukup besar karena permintaan pasar internasional terus ada, khususnya untuk produk-produk yang telah memenuhi standar dan kualifikasi ekspor.
Menurutnya, mekanisme perdagangan ekspor sangat dipengaruhi oleh hukum pasar. Ketika permintaan meningkat, pelaku usaha akan terdorong untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar. Di NTB sendiri, sejumlah perusahaan perikanan telah memiliki kesiapan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.


“Permintaan pasar ekspor itu mengikuti hukum pasar. Ketika permintaan meningkat dengan standar tertentu, perusahaan-perusahaan yang sudah siap tentu akan bergerak untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.


Meski demikian, Muslim menegaskan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya bergantung pada besarnya permintaan pasar. Faktor efisiensi operasional armada penangkapan ikan juga menjadi penentu utama.


Ia mencontohkan kapal-kapal perikanan berukuran di atas 30 Gross Ton (GT) yang saat ini diwajibkan menggunakan solar industri. Kenaikan harga BBM industri membuat para pemilik kapal harus menghitung secara cermat biaya operasional sebelum melaut.


“Pemilik kapal sekarang berpikir matang untuk memobilisasi armadanya. Mereka harus memiliki kepastian lokasi penangkapan yang potensial agar biaya operasional yang dikeluarkan sebanding dengan hasil tangkapan,” katanya.


Untuk meningkatkan efisiensi, pelaku usaha perikanan harus memanfaatkan berbagai teknologi pendukung, seperti alat bantu pendeteksi keberadaan ikan atau fish finder. Teknologi ini bisa membantu nelayan dan pengusaha kapal menentukan daerah penangkapan (fishing ground) yang potensial sehingga penggunaan BBM dapat lebih efisien.


Menurut Muslim, keberadaan informasi lokasi ikan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas penangkapan. Dengan hasil tangkapan yang lebih optimal, pasokan bahan baku untuk industri pengolahan dan kebutuhan ekspor juga akan meningkat.


“Kalau penangkapannya bagus, otomatis ekspornya juga bagus. Karena itu informasi potensi daerah penangkapan dan teknologi pendukung menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.


Meski demikian, ia menilai persoalan BBM industri masih menjadi isu strategis yang perlu dievaluasi. Pemerintah diharapkan dapat mengkaji kembali kebijakan terkait harga dan akses BBM industri agar lebih berpihak pada kondisi riil yang dihadapi pelaku usaha perikanan.


“Masalah BBM industri ini sangat penting dan tidak bisa diabaikan. Perlu ada kajian kembali agar kebijakannya lebih berpihak pada kebutuhan sektor perikanan di lapangan,” tegasnya.


Muslim mengungkapkan sejumlah komoditas perikanan NTB yang saat ini menjadi andalan ekspor antara lain udang vaname, tuna, mutiara, berbagai jenis ikan karang, serta rumput laut.
Produk-produk tersebut sebagian besar dipasarkan ke berbagai negara tujuan ekspor, termasuk Tiongkok. Namun, pengiriman masih banyak dilakukan melalui pelabuhan di Surabaya sebelum diteruskan ke negara tujuan.


“Yang banyak diekspor sekarang udang vaname, tuna, mutiara, beberapa jenis ikan karang, termasuk rumput laut. Banyak yang ke pasar Tiongkok, meskipun pengirimannya masih melalui Surabaya,” ungkapnya.


DKP NTB mencatat komoditas perikanan tetap menjadi salah satu sektor unggulan daerah yang memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian NTB. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, terutama terkait efisiensi operasional dan biaya produksi, peluang peningkatan ekspor perikanan dinilai masih sangat terbuka di tengah melemahnya nilai tukar rupiah. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO