Mataram (Suara NTB) – Dua ruang kelas di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Badrussalam NW Sekarbela yang berlokasi di Jalan Sultan Kaharuddin, Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, ambruk pada Sabtu, 20 Juni 2026, sekitar pukul 16.30 Wita. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut karena kegiatan belajar mengajar telah selesai saat bangunan roboh.
Pantauan Suara NTB di lokasi pada Senin (22/6) sekitar pukul 13.20 Wita menunjukkan area bangunan yang ambruk telah dipasangi garis polisi. Material bangunan berupa kayu penyangga atap dan genting berserakan di dalam ruang kelas. Sejumlah meja dan kursi siswa juga tampak rusak akibat tertimpa reruntuhan.
Kepala MTs Badrussalam NW Sekarbela, Istiarah, mengatakan bangunan yang roboh merupakan dua ruang kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar siswa. Menurutnya, usia bangunan yang sudah cukup tua diduga menjadi penyebab utama ambruknya konstruksi atap.
Ia menjelaskan, sekolah tersebut dibangun pada tahun 1984 dan terakhir kali mendapat renovasi pada tahun 1995. Sejak saat itu, belum ada perbaikan besar yang dilakukan terhadap bangunan tersebut.
“Material kayu pada bagian atap sudah lapuk karena usia,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Istiarah mengungkapkan, ruang kelas yang ambruk merupakan ruang kelas VIII dan IX. Hingga kini pihak sekolah masih melakukan inventarisasi kerusakan, baik pada bangunan maupun fasilitas belajar yang terdampak.
Sebelum kejadian, pihak sekolah sebenarnya telah melihat tanda-tanda kerusakan pada struktur bangunan. Bagian atap terlihat melengkung dan mengalami penurunan sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan siswa dan guru.
“Kami sebenarnya sudah mengantisipasi. Ruangan yang ambruk ini sempat kami kosongkan dan tidak boleh digunakan. Namun saat pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA), sinyal internet di ruang lain kurang mendukung. Karena ruangan ini memiliki akses internet yang lebih kuat, akhirnya sempat digunakan kembali,” tuturnya.
Meski demikian, ia bersyukur peristiwa ambruknya bangunan terjadi di luar jam sekolah sehingga tidak menimbulkan korban. Jika kejadian tersebut terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Akibat peristiwa itu, pihak sekolah memperkirakan nilai kerugian mencapai sekitar Rp250 juta. Kerugian tersebut meliputi kerusakan konstruksi bangunan, atap, plafon, serta sejumlah sarana dan prasarana pembelajaran yang berada di dalam kelas.
Pasca-kejadian, sejumlah pihak telah turun langsung meninjau lokasi, termasuk Pemerintah Kota Mataram, Kantor Kementerian Agama Kota Mataram, serta anggota DPRD Kota Mataram. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi bangunan secara langsung sekaligus membahas langkah penanganan dan dukungan yang dapat diberikan kepada sekolah.
(pan)

