Nyamuk untuk Cegah DBD
PEMERINTAH Kelurahan Sayang-Sayang, Kecamata Cakranegara, menggencarkan upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan mengintensifkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh lingkungan.
Langkah tersebut dilakukan menyusul kondisi anomali cuaca yang dinilai dapat meningkatkan potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, penyebab penyakit DBD.
Lurah Sayang-Sayang, Rony Aprianto, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan para kepala lingkungan untuk terus mengedukasi masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan secara rutin. Menurutnya, keberhasilan pencegahan DBD sangat bergantung pada partisipasi warga dalam menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Kami sudah menyampaikan kepada seluruh kepala lingkungan agar mengingatkan masyarakat untuk terus melakukan PSN secara mandiri. Pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing,” ujarnya, Senin (29/6).
Ia menjelaskan, masyarakat diimbau menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Selain itu, warga diminta rutin membersihkan saluran drainase dan pekarangan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurut Rony, berbagai wadah seperti botol bekas, kaleng, ember yang tidak digunakan, hingga genangan air di sekitar rumah kerap menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk bertelur. Karena itu, upaya sederhana tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh seluruh warga.
Selain mengedepankan edukasi, Kelurahan Sayang-Sayang juga memperkuat koordinasi dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Mataram. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan dapat segera dilakukan apabila ditemukan warga yang diduga terjangkit DBD.
Rony mengatakan, kerja sama dengan puskesmas juga mencakup penyediaan bubuk Abate yang akan dibagikan kepada masyarakat sebagai salah satu langkah pencegahan.
“Biasanya kami menerima bubuk Abate untuk dibagikan kepada warga. Bubuk itu digunakan di bak mandi, tempat penampungan air, maupun wadah lain yang berpotensi menjadi tempat bertelurnya nyamuk,” jelasnya.
Berdasarkan data Kelurahan Sayang-Sayang, pada awal 2026 sempat ditemukan sekitar dua kasus DBD. Namun, hingga akhir Juni tahun ini belum ada laporan penambahan kasus baru.
“Kalau tidak salah ada kasus pada awal tahun, tetapi jumlahnya tidak banyak. Alhamdulillah sampai saat ini belum ada laporan kasus DBD lagi,” ungkapnya.
Rony berharap masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan kepada kepala lingkungan, ketua RT, kader kesehatan, maupun puskesmas apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, atau muncul bintik merah pada kulit. Dengan penanganan yang cepat, risiko komplikasi akibat penyakit tersebut dapat diminimalkan. (pan)

