Tanjung (Suara NTB) – Ratusan jaringan tersier persawahan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) membutuhkan intervensi anggaran. Berdasarkan inventarisasi Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) KLU, tercatat 400 titik jaringan irigasi tersier yang memerlukan penanganan mendesak.
Kepala Dinas KPPP KLU, Tresnahadi, S.Pt. Selasa (7/7/2026) mengungkapkan, penanganan irigasi tersier membutuhkan anggaran yang cukup besar. Menyiasati minimnya kemampuan keuangan daerah, pihaknya mengajukan usulan anggaran rehabilitasi kepada Kementerian terkait.
“Alhamdulillah, untuk tahun ini ada beberapa anggaran pusat yang turun ke KLU. Termasuk rehabilitasi 40 titik jaringan irigasi tersier di 5 kecamatan,” ungkap Tresnahadi.
Ia menjelaskan, program rehabilitasi jaringan irigasi tersebut dikerjakan secara swakelola oleh 40 kelompok penerima manfaat. Masing-masing kelompok akan menerima Rp100 juta. Pagu anggaran tersebut juga mencakup biaya perencanaan dan biaya pengawasan.
Pihaknya belum bisa memastikan volume (meter) jaringan irigasi yang bisa disentuh oleh pagu sebesar Rp100 juta tersebut. Setidaknya, volume nantinya akan sangat bergantung pada perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.
“Harus kita akui, irigasi tersier sesuai data kita, ada 400 titik yang kondisinya harus direhabilitasi. Kita terus melakukan lobi-lobi ke pusat untuk dapat anggaran karena dampak infrastruktur ini mempengaruhi produktivitas petani,” paparnya.
Selain program tersebut, DKPPP KLU juga mendapatkan program bantuan penguatan jaringan irigasi perpompaan kepada 23 kelompok petani. Titik bantuan menyasar petani-petani yang memiliki sumber air, tetapi terkendala oleh teknis distribusi. Di antaranya, sumber air tidak memungkinkan distribusi melalui gravitasi lantaran sawah berada di atas kali/sungai/embung.
Sementara, bantuan irigasi perpipaan untuk mendukung efektifitas dan efisiensi pengairan diterima oleh 11 kelompok. Prasarana perpipaan ini digelontorkan untuk mempercepat distribusi air ke area persawahan akibat tingginya tingkat kehilangan air dalam proses pengairan.
“Untuk irigasi pompa, tiap kelompok menerima Rp136 juta per kelompok. Sedangkan bantuan perpipaan, Rp97 juta per kelompok,” imbuhnya.
Ia menambahkan, bantuan lain yang diterima adalah rehabilitasi embung satu unit senilai Rp130-an juta. Sarana ini dibangun dan diperbaiki untuk menampung air hujan guna menambah sumber air untuk petani. (ari)

