Giri Menang (Suara NTB) – Pihak Kecamatan di Lombok Barat mengusulkan agar dibangun Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di tingkat Rayon desa sebagai salah satu solusi jangka panjang dalam penanganan sampah. Seperti persoalan sampah menggunung di Pasar Gunungsari, yang kerap dikeluhkan warga setempat.
Hal ini disampaikan Camat Gunungsari Zulkifli, kepada media Rabu (8/6/2026). Ia mengatakan, tumpukan sampah di Pasar Gunungsari terus menggunung. Kondisi itu memicu keluhan warga dan pedagang, karena mengganggu kenyamanan sekaligus mengancam kesehatan lingkungan. Pihaknya menilai, persoalan tersebut terjadi akibat keterbatasan armada pengangkut. Volume sampah yang masuk setiap hari jauh melebihi kapasitas pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok.
Camat Gunungsari mengatakan, sampah yang masuk ke TPS Pasar Gunungsari bukan hanya berasal dari aktivitas pasar. Menurutnya, masyarakat dari sejumlah desa di Kecamatan Gunungsari juga membuang sampah ke lokasi tersebut. Bahkan, warga dari luar kecamatan ikut memanfaatkan TPS itu.
“Tumpukan sampah terjadi karena volume pengangkutan ke TPA belum sesuai dengan besarnya produksi sampah yang masuk ke TPS Pasar Gunungsari,” ujarnya, Selasa, 7 Juli 2026.
Ia menjelaskan, saat ini hanya tersedia dua unit dump truck. Masing-masing armada beroperasi dua kali sehari atau empat ritase setiap hari. Namun, kapasitas tersebut belum mampu mengimbangi produksi sampah. “Faktanya, dengan dua dump truck yang masing-masing dua kali angkut sehari, sampah masih tetap menumpuk,” katanya.
Karena itu, pihak kecamatan telah mengajukan penambahan armada dan peningkatan volume pengangkutan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat. Selain meminta tambahan armada, Zulkifli juga mengusulkan solusi jangka panjang. Ia berharap pemerintah membangun TPS di tingkat rayon desa. Menurutnya, satu TPS dapat melayani gabungan dua hingga tiga desa. Setiap TPS juga perlu ada kelengkapan armada pengangkut sendiri.
“Harapan kami, volume dan armada pengangkut segera ditambah. Untuk jangka panjang, perlu TPS di tingkat rayon desa,” ujarnya.
Di sisi lain, pihak kecamatan terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah sejak dari rumah. Ia mendorong warga mengolah sampah organik menjadi pupuk dan memanfaatkan sampah tertentu menjadi kerajinan. Langkah itu ia sebut dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPS.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, M. Busyairi menyebut, penumpukan sampah terjadi karena kapasitas pengangkutan belum sebanding dengan volume sampah yang masuk ke TPS Pasar Gunungsari. Saat ini hanya tersedia dua armada pengangkut dengan empat ritase per hari, namun sampah terus menumpuk.
“Upaya gotong royong untuk membersihkan dengan mengangkut semua sampah sudah beberapa kita lakukan, tapi beberapa hari kemudian menumpuk lagi sampahnya,” jelas Busyairi Rabu (8/7/2026).
Ia berharap agar pemilahan lebih banyak terjadi di Rumah Tangga masyarakat, agar intensitas sampah tercampur yang dibuang lebih minim. Sehingga tidak semua sampah akan masyarakat buang ke TPS, namun sisa sampah yang tak bisa dimanfaatkan saja. (her)

