Sumbawa Besar (Suara NTB) – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, mengklaim program The Development of Integrated Farming System at Upland Area (UNPLAD) atau proyek pengembangan system pertanian terpadu di daerah dataran tinggi sudah mampu mendongkrak ekonomi bagi masyarakat. Program ini juga mengubah wajah pertanian bawang merah di Kabupaten Sumbawa.
“Awalnya petani dari Bima yang menanam bawang merah dengan menyewa lahan di Sumbawa. Sekarang, berkat Program UPLAND, petani Sumbawa sudah menjadi tuan di daerahnya sendiri,” kata Haji Jarot kepada wartawan, kemarin.
Menurut Bupati, sebelum program UPLAND hadir, petani Sumbawa belum banyak yang berani membudidayakan bawang merah. Hal itu terjadi karena keterbatasan modal, pengetahuan, dan tingginya risiko usaha sehingga banyak lahan disewakan kepada petani dari Bima.
Keberhasilan program UPLAND bukan hanya tercermin dari pembangunan fisik dan tingginya serapan anggaran. Tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan diri petani untuk mengelola lahannya sendiri.
“UPLAND telah mengangkat martabat petani Sumbawa. Hari ini mereka tidak lagi menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang mampu mengembangkan bawang merah sebagai komoditas unggulan dan menikmati manfaat ekonominya,” tambahnya.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa, Ir. Ni Wayan Rusmawati, mengatakan program UPLAND tahap pertama dimulai tahun 2023–2024 berhasil melampaui target pengembangan lahan. Dari luas sekitar 800 hektare menjadi 853 hektare dan tahap kedua di tahun 2025–2026 mencakup 300 hektare.
“Selama enam tahun pelaksanaan program, UPLAND telah memberikan manfaat kepada 1.838 kepala keluarga petani dan kami berharap program ini bisa terus berlanjut di masa yang akan datang,” ucapnya.
Wayan melanjutkan, dengan program tersebut pemerintah sudah mampu membangun 22,5 kilometer Jalan Usaha Tani (JUT), 495 unit infrastruktur air (441 sumur dangkal dan 54 sumur dalam). 287 unit alat mesin pertanian, serta distribusi 1.147 ton bibit bawang merah untuk lahan seluas 1.148 hektare.
Ia menambahkan, keberhasilan program turut terlihat dari meningkatnya pendapatan petani. Budidaya bawang merah kini mampu menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp100–Rp190 juta per hektare setiap musim tanam, bahkan berpotensi melampaui Rp200 juta per tahun dengan dua kali musim tanam.
“Pak Ragif salah satunya, ia mampu meraup keuntungan hingga Rp445 juta, Ibu Erliyanti yang memperoleh Rp350 juta dan berhasil mewujudkan impian berangkat umrah. Petani lainnya yang mampu membangun sumur bor dan rumah permanen dari hasil usaha bawang merah,” tambahnya.
Country Director IFAD, Mr. Hani Elsadani mengapresiasi atas keberhasilan pelaksanaan Program UPLAND di Kabupaten Sumbawa. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun sektor pertanian yang berkelanjutan.
“Kami berharap keberhasilan Sumbawa dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya. (ils)

