Suasana di SMP Sains Lombok Islamic School terasa berbeda, pada Kamis, 16 Juli 2026 pagi. Anak-anak yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang baru sehari mengenal sekolah ini masih terlihat malu-malu. Tapi begitu seorang tamu asing berjalan masuk ke tengah barisan, suasana langsung berubah. Semua bertepuk tangan, sebagian bahkan sampai berdiri saking kagetnya.
Tamu itu ternyata Mr. Leon, seorang pemuda dari Jerman. Sekolah memang sengaja merahasiakan kedatangannya, jadi wajar kalau anak anak kaget setengah mati. Yang lebih bikin heboh, Mr. Leon berbicara pakai bahasa Indonesia yang lumayan lancar. Begitu ia menyapa, riuh tawa dan tepuk tangan langsung memenuhi lapangan.
Mr. Leon tidak berpidato panjang lebar. Ia lebih banyak bercerita, seperti sedang mengobrol dengan adik adiknya sendiri. Ia cerita tentang hidupnya, tentang bagaimana sekolah pernah membuka jalan yang dulu tidak pernah ia bayangkan. Katanya, sekolah itu bukan cuma soal nilai bagus di rapor. Sekolah adalah bekal untuk menghadapi hidup yang terus berubah, dan yang berubah itu cepat sekali.
Ada satu pesan yang paling melekat di ingatan anak anak, tentang mimpi. Mr. Leon bilang, banyak orang takut punya mimpi besar karena takut dibilang berlebihan, atau takut gagal duluan sebelum mencoba. Padahal menurutnya, justru mimpi besar itu yang bikin orang mau berjalan lebih jauh. Kalau dari awal sudah membatasi diri, jalannya juga ikut pendek.
Ia juga mengingatkan supaya anak anak jangan gampang puas. Katanya, dulu ia sendiri pernah merasa cukup dengan pencapaian kecil, sampai akhirnya sadar kalau rasa puas yang datang terlalu cepat itu justru bikin berhenti berkembang. Cara ia bercerita santai saja, tidak menggurui, sampai sampai beberapa anak tertawa karena caranya menyampaikan cukup lucu.
Selama Mr. Leon bicara, ada yang sibuk mencatat, ada juga yang cuma diam mendengarkan sambil sesekali tersenyum. Setelah sesi cerita selesai, dibuka sesi tanya jawab. Beberapa anak berani bertanya soal kehidupan di Jerman, soal sekolah di sana, sampai soal kenapa Mr. Leon mau repot repot datang ke sekolah ini.
SMP Sains Lombok Islamic School, Abdul Hapiz. S.Si., M.Pd., ikut menyampaikan terima kasih atas kesediaan Mr. Leon meluangkan waktunya. Harapannya sederhana saja, semoga anak anak sadar bahwa dunia yang akan mereka hadapi nanti jauh lebih luas dari yang mereka bayangkan sekarang, dan sekolah adalah salah satu jalan untuk sampai ke sana.
Banyak guru dan panitia yang ikut terbawa suasana. Beberapa sampai mengabadikan momen itu lewat kamera HP, karena kesempatan seperti ini memang jarang datang. Ada rasa bangga tersendiri melihat anak anak baru duduk mendengarkan cerita hidup seseorang dari negara yang jauh sekali dari Lombok.
Di akhir sesi, Mr. Leon menyampaikan harapan sederhana. Ia ingin suatu hari bisa kembali lagi ke sekolah ini, bukan lagi sebagai tamu yang memberi semangat, tapi sebagai orang yang mendengar cerita keberhasilan dari anak anak yang hari itu duduk di depannya. Kalimat sesederhana itu justru terasa paling menyentuh, karena banyak anak merasa dipercaya untuk benar benar mewujudkan mimpinya.
Hari kedua MPLS ditutup dengan foto bersama. Wajah wajah yang tadinya masih canggung kini terlihat lebih percaya diri. Seolah semua membawa pulang satu pesan sederhana dari tamu istimewa mereka pagi itu, bahwa mimpi besar itu layak diperjuangkan, dan apa yang dicapai hari ini baru langkah pertama dari perjalanan yang masih sangat panjang. (r)

