Mataram (Suara NTB) – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 7 Mataram punya cara yang inovatif dalam mengampanyekan anti-perundungan (bullying) kepada para siswa. Caranya adalah melalui penguatan literasi. Sekolah terus membangun kesadaran siswa untuk berlaku baik terhadap sesama.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMPN 7 Mataram, Azizah Solehah mengatakan, sekolah secara aktif menggalakkan aktivitas literasi baik digital maupun keagamaan untuk menangkal perilaku diskriminatif antar-siswa.
Di aspek literasi digital, pihaknya mempunyai program satu hari satu kutipan atau one day, one quote. Seluruh warga sekolah dari guru hingga siswa didorong untuk membuat kutipan motivasi yang diunggah di media sosial (medsos) sekolah.
Selain melalui platform daring, kutipan yang telah dibuat siswa atau guru akan dibacakan berkala di hadapan warga sekolah secara langsung.
“Intinya pesan-pesan moral, terus disuarakan juga setiap hari untuk menciptakan sekolah yang ramah, aman, bersih, dan bebas ‘bullying’, baik secara psikis maupun verbal,” ujarnya, Kamis (6/8).
Azizah menuturkan, pembuatan kutipan telah jadwalkan bagi semua warga sekolah, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang tidak ikut berpartisipasi di dalamnya.
Di samping melalui pesan dan kutipan daring, SMPN 7 Mataram juga aktif mengampanyekan perilaku anti-perundungan melalui penguatan literasi keagamaan. Siswa dengan keyakinan masing-masing didorong aktif melaksanakan perintah agama mulai dari disiplin mengerjakan ibadah dan anjuran lainnya.
Penguatan literasi keagamaan ini dilakukan dengan harapan, siswa dapat menginternalisasikan nilai-nilai moral yang terkandung pada ajaran agama masing. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam atas pesan agama itu sejalan dengan sikap dan perilaku siswa nantinya. “Di situ kita berharap kalau anak-anak sudah paham ajaran agama masing-masing, kan semua agama pasti mengajarkan perilaku baik. Tidak ada bullying,” tuturnya.
Azizah berharap penguatan literasi yang serius, siswa dapat berlaku baik antar-sesama dan mampu menjadi pribadi yang positif dan inspiratif di lingkungannya. Sebab, menurutnya, agama bukan saja soal urusan ibadah spiritual tetapi juga ibadah sosial. (sib)

