Praya (Suara NTB) – Penyebaran Judi Online (Judol) serta Pinjaman Online (Pinjol) saat ini sudah begitu masif terjadi di tengah masyarakat. Dan, sudah merambah hingga kalangan anak muda. Data secara nasional menyebutkan hingga 2026 ini total ada sekitar 200 ribu anak muda yang terpapar judol, dengan 80 ribu lebih diantaranya anak dibawah umur.
Melihat kondisi tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Lombok Tengah (Loteng) secara intens terus memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satu upaya yakni dengan memperkuat literasi digital di kalangan anak muda, terutama pelajar di Loteng.
Seperti yang dilakukan Senin (27/7) kemarin, tim Diskominfo Loteng bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram (Unram) turun memberikan edukasi bahaya judol dan pinjol kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Praya Barat Daya.
“Saat ini kerugian akibat judol diperkirakan sudah mendekati Rp1.000 triliun. Dan, lelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi salah satu kalangan yang paling rentan terdampak,” ungkap Kabid. PIKP Diskominfo Loteng H. Iswandy Khairy Ramen, S.IP., M.Han., dihadapi puluhan siswa-siswi SMA Negeri 1 Praya Barat Daya.
Ia pun mengingatkan kepada para siswa untuk tidak mencoba judol. Kalau sudah sekali mencoba akan menimbulkan rasa penasaran yang membuat kemudian ingin terus bermain. Menurutnya, pola judol biasanya bianya memberikan kemenangan sebagai umpan supaya pemain mau terus mengakses dan bermain, tanpa terasa pemain sudah kalah berkali-kali.
“Polanya sekali menang, bisa sepuluh kali kalah. Karena memang sistemnya sudah diatur supaya pemain tidak pernah benar-benar menang,” ujarnya.
Jika sudah kecanduan pelaku judol berisiko menggunakan pinjol untuk memperoleh tambahan uang sebagai taruhan. Kalau sudah demikian maka persoalan baru pun timbul. Pelaku bakal terlilit utang.
Di beberapa kasus, banyak anak muda yang belum memiliki KTP menggunakan identitas orang tua untuk mengajukan pinjol. Terkadang, orang tua sudah menerima pemberitahuan tagihan pinjol. Hal itu yang kemudian bisa memicu persoalan di tengah keluarga.
Jadi agar terhindar dari jeratan judol dan pinjol, selain tidak mencoba, ketika mendapat iklan kiriman iklan judol maupun pinjol agar segera dilewati atau menutup iklan tersebut. Jika sekali saja iklan tersebut dibaca apalagi sampai dibuka, iklan atau konten serupa akan terus muncul di gawai maupun di laptop tempat mengakses internet.
“Mari kita bisa bijak dalam mengakses media sosial ataupun intenet. Konten yang sering dibuka atau ditonton akan memengaruhi rekomendasi yang terus muncul di beranda pengguna. Jadi kalau kita sering membuka konten tertentu seperti judol ataupun pinjol, maka konten serupa akan terus muncul. Karenanya, biasakan memilih dan mengakses konten yang positif serta bermanfaat,” tegas alumnus Universitas Pertahanan (Unha) ini. (kir)

