Mataram (Suara NTB) – Sekolah-sekolah setingkat SMA di Provinsi NTB sudah menyerap bibit cabai gratis yang disiapkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan melalui UPTD-nya, SMK PP Negeri Mataram pada program gerakan tanam cabai untuk pengendalian inflasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza, melalui Kepala SMK-PP Negeri Mataram, Sugiharta, M.Pd, Selasa, 28 Juli 2026 mengatakan, penyaluran bibit berjalan sesuai target. Bahkan, seluruh SMA, SMK, dan SLB di Kota Mataram telah menerima bibit cabai, disusul sekolah-sekolah di Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara (KLU).
“Untuk Kota Mataram seluruh SMA, SMK, dan SLB sudah mengambil bibit. Lombok Barat juga hampir seluruhnya, begitu juga KLU. Lombok Timur sebagian besar juga sudah mengambil. Secara keseluruhan sekitar 80 persen sekolah di Pulau Lombok telah menyerap bibit cabai yang kami siapkan,” ujarnya.
Meski demikian, Sugiharta mengatakan masih ada beberapa sekolah yang belum mengambil bibit, terutama di wilayah Lombok Timur. Sebagian sekolah juga memilih memproduksi bibit secara mandiri karena memiliki kompetensi di bidang pertanian.
“Contohnya SMKN 1 Sakra yang memiliki program keahlian agribisnis pertanian. Mereka menyiapkan bibit sendiri sesuai kebutuhan. Jadi tidak semua sekolah bergantung pada bibit yang kami produksi,” jelasnya.
Selain untuk ditanam di lingkungan sekolah, bibit cabai juga diberikan kepada guru dan siswa agar dapat dibudidayakan di rumah masing-masing. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas produksi cabai hingga ke tingkat rumah tangga.
“Harapan Pemprov NTB, gerakan ini tidak hanya memberi manfaat bagi sekolah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan guru, siswa, dan keluarga mereka,” katanya.
Sugiharta menegaskan, apabila stok 400 ribu bibit habis tersalurkan, pihaknya akan kembali memproduksi bibit baru. Namun, jumlah produksi akan disesuaikan dengan kebutuhan dan musim tanam.
“Kami akan kembali memproduksi bibit, terutama menjelang musim hujan sekitar Desember hingga Januari. Sementara bibit yang sekarang sudah disalurkan diperkirakan mulai berbuah dalam dua hingga tiga bulan ke depan,” ujarnya.
Bibit yang dibagikan merupakan bibit berumur sekitar empat hingga lima minggu dengan tiga hingga empat helai daun, sehingga telah siap dipindahkan ke media tanam yang lebih besar.
“Kalau ditanam sekarang, sekitar satu setengah bulan kemudian sudah mulai berbuah,” jelasnya.
Untuk meningkatkan keberhasilan program, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB terlebih dahulu memberikan pelatihan kepada para guru sebagai pendamping di sekolah.
Sebanyak 61 guru dari SMA, SMK, dan SLB telah mengikuti pelatihan budidaya cabai dalam polybag. Selain itu, sejumlah sekolah datang langsung ke SMK-PP Negeri Mataram bersama kepala sekolah, guru, dan siswa untuk belajar teknik budidaya cabai.
“Ada sekolah yang datang sendiri membawa guru dan siswanya untuk belajar. Kami ajarkan mulai dari penanaman hingga perawatan tanaman cabai,” kata Sugiharta.
Menurutnya, keberhasilan budidaya cabai sangat ditentukan oleh perawatan, terutama penyiraman, pemupukan, dan kecukupan media tanam.
“Bibit yang kami bagikan sudah siap tanam. Tinggal bagaimana sekolah merawatnya dengan baik agar hasilnya optimal,” ujarnya.
Sugiharta mengatakan hasil panen nantinya dapat dimanfaatkan sesuai kebijakan masing-masing sekolah, baik untuk dibagikan kepada guru, siswa, dan wali murid maupun dijual sebagai sumber pendapatan sekolah.
Jika bibit ditanam mulai Juli, panen diperkirakan berlangsung pada September hingga November, bertepatan dengan periode ketika harga cabai sering mengalami kenaikan.
“Harapan pemerintah, saat terjadi potensi kelangkaan atau kenaikan harga cabai, sekolah sudah memiliki hasil panen sendiri sehingga bisa ikut membantu menekan inflasi,” katanya.
Setiap sekolah memperoleh jumlah bibit yang disesuaikan dengan jumlah siswa baru. Secara umum, setiap siswa mendapatkan satu bibit cabai. Namun, sekolah yang memiliki lahan luas dapat memperoleh bibit lebih banyak untuk ditanam langsung di lahan, tidak hanya di polybag. (bul)

