Selong (Suara NTB) – Di tengah pesatnya perkembangan Sembalun sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Gunung Rinjani di NTB, SMAN 1 Sembalun memilih menyiapkan lulusannya agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja di kampung halamannya sendiri.
Kepala SMAN 1 Sembalun, Johri, mengatakan potensi ekonomi dan pariwisata yang terus tumbuh di kawasan Sembalun menjadi alasan sekolah memperkuat pendidikan kewirausahaan.
Tujuannya agar para lulusan mampu mengambil peluang usaha yang tersedia, mulai dari sektor pariwisata hingga pengolahan hasil pertanian.
“Target kami, setelah lulus anak-anak bisa hidup mandiri. Mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menjadi pelaku ekonomi di daerahnya sendiri,” ujarnya, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Johri, banyak alumni SMAN 1 Sembalun kini bekerja di berbagai sektor pendukung pariwisata, seperti hotel, homestay, restoran, kedai kopi, hingga usaha kuliner yang berkembang di kawasan wisata Sembalun. Bahkan, tidak sedikit yang memilih membuka usaha sendiri. Seiring meningkatnya kunjungan wisata domestik dan mancanegara untuk menikmati beragam wisata Gunung Rinjani.
Sejumlah alumni juga sukses membangun usaha jasa fotografi, videografi, hingga menjadi penggerak wisata lokal. Beberapa pemilik kedai kopi, restoran, maupun penginapan di Sembalun disebut merupakan lulusan sekolah ini.
“Kami ingin anak-anak menjadi pelaku utama pembangunan pariwisata, bukan hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” tegasnya.
Untuk mendukung tujuan tersebut, sekolah mengembangkan program unggulan Global Track yang berfokus pada kewirausahaan berbasis potensi lokal. Salah satu program utamanya adalah pengolahan kopi, mengingat kopi menjadi salah satu komoditas unggulan Sembalun.
Melalui program ini, siswa dikenalkan pada proses pengolahan hasil pertanian hingga peluang bisnisnya. Namun, sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana praktik.
“Untuk praktik pengolahan kopi kami masih memanfaatkan fasilitas milik pelaku usaha kopi di Sembalun karena peralatan di sekolah masih terbatas,” katanya.
Selain pengolahan kopi, siswa juga dibekali keterampilan pertanian, pembibitan tanaman, hingga konservasi lingkungan. Sekolah telah mengembangkan kebun alpukat serta pembibitan tanaman endemik sebagai bagian dari pendidikan kewirausahaan dan pelestarian sumber mata air di Sembalun.
Johri menjelaskan, sekolah juga melibatkan alumni yang telah sukses sebagai mentor dan narasumber bagi para siswa. Meski belum memiliki kerja sama formal dengan dunia usaha, pendekatan tersebut dinilai efektif karena siswa belajar langsung dari pengalaman para alumni.
“Kami mengajak alumni yang sudah berhasil untuk berbagi pengalaman dan menjadi mentor bagi adik-adiknya,” ujarnya.
Untuk memastikan perkembangan lulusannya, sekolah menerapkan tracer study setiap tahun. Pendataan dilakukan terhadap alumni yang melanjutkan pendidikan, bekerja di dalam maupun luar daerah, bekerja di luar negeri, hingga yang telah membuka usaha sendiri.
Menurut Johri, perkembangan ekonomi Sembalun dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang besar bagi generasi muda. Pertumbuhan penginapan, restoran, kafe, jasa wisata hingga aktivitas pendakian Gunung Rinjani membuat kebutuhan tenaga kerja sekaligus peluang usaha terus meningkat. (bul)

