Mataram (Suara NTB) – Komisi V DPRD NTB prihatin dengan kondisi yang dialami SMA Negeri 1 Gunung Sari. Sebagian siswa terpaksa belajar di kelas darurat setelah enam kelas utama hampir roboh.
Sekretaris Komisi V DPRD NTB, Hj. Sitti Ari, mengaku prihatin terhadap situasi yang dialami warga sekolah SMAN 1 Gunung Sari. Persoalan ini harus mendapat atensi Komisi V DPRD NTB, agar siswa tidak lagi belajar di ruangan darurat. “Seharusnya anak-anak ini dapat belajar di tempat yang layak. Tapi seperti ini kondisinya,” ujarnya prihatin, Kamis (30/7).
Politisi Partai PPP itu menyampaikan, persoalan yang dihadapi SMAN 1 Gunung Sari akan menjadi perhatian Komisi V DPRD NTB. Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan jajaran dewan di Komisi V untuk segera menentukan tindakan selanjutnya.
“Kami akan memanggil OPD, Kepala Dinas Pendidikan untuk menanyakan terkait ini, atau mungkin kami juga akan turun langsung ke lokasi,” terangnya.
Ia memastikan, pihaknya akan secepatnya menindaklanjuti persoalan tersebut,termasuk memetakan berapa anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki bangunan sekolah yang rusak.
Sejumlah siswa kelas XI SMAN 1 Gunung Sari terpaksa belajar di ruang darurat setelah enam kelas milik sekolah disegel. Penyegelan itu merupakan imbas kondisi bangunan sekolah yang tak layak pakai dan rentan roboh.
Alhasil, sekolah terpaksa memakai ruangan non-kelas seperti perpustakaan, bekas gedung, bekas musala, hingga kantin sekolah sebagai ruang darurat untuk belajar.
Hijjatun Zamani, siswi kelas XI G, mengaku masih beradaptasi dengan kondisi ruang kelas barunya. Ruang kelas itu sebelumnya adalah bekas musala dengan atap asbes dan berdinding gorden.
Hijja dan teman-temannya sebelumnya belajar di ruang kelas yang penuh fasilitas. Seperti pendingin udara hingga konstruksi bangunan yang nyaman untuk belajar. Namun, setelah disegel, Hijja dan siswa lain harus belajar di ruang darurat yang disediakan sekolah.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Gunung Sari, Musyrifin mengatakan, penyegelan enam kelas milik sekolah itu berimbas pada proses pembelajaran siswa terkendala. Sebab, ruangan yang dapat dimanfaatkan sedikit.
Musyrifin, menjelaskan, pihaknya mesti memanfaatkan ruangan non-kelas sebagai lokasi pembelajaran. Pemanfaatan ruang non-kelas itu terpaksa dilakukan untuk memastikan pembelajaran tetap berlangsung.
“Walaupun tidak bisa dipungkiri memang dengan kondisi dan situasi itu, anak-anak juga banyak keluhan tempatnya mungkin lebih kecil. Kemudian atapnya pendek, berdampak juga panas sehingga apa namanya kurang fokus belajar,” ungkapnya.
Musyrifin sudah melapor ke Dikpora menyangkut keadaan sekolahnya. Sekolah juga telah mengusulkan revitalisasi lewat Dapodik. Namun, hingga kini belum ada kejelasan terkait program tersebut.
Kondisi itu membuat pihak sekolah gigit jari. Pasalnya, mereka khawatir, kondisi cuaca yang tak menentu, akan mengganggu proses belajar-mengajar guru dan siswa. Mengingat, struktur ruang kelas yang terbuka, rentan terdampak cuaca seperti hujan.
“Yang dikhawatirkan oleh teman-teman ini ketemu musim hujan. Kayak di (ruang kelas) kantin itu walaupun kalau hujan itu banjir dia karena memang rendah. Air sawah di sini juga naik,” pungkasnya. (sib)

