Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menyatakan tim appraisal akan melakukan penilaian terhadap dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaan proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpadu (SPALD-T). Penilaian tersebut menjadi dasar pemberian kompensasi kepada masyarakat yang terdampak, khususnya akibat pekerjaan penggalian jaringan pipa.
Sebelumnya, pelaksanaan proyek SPALD-T yang didanai Bank Dunia di Kota Mataram menuai keluhan dari masyarakat. Aktivitas penggalian jaringan pipa di sejumlah ruas jalan dan kawasan pertokoan dinilai mengganggu aktivitas usaha warga. Bahkan, sebagian pemilik warung dan toko terpaksa menutup usahanya sementara selama proses pengerjaan berlangsung.
Keluhan masyarakat terutama berkaitan dengan dampak ekonomi yang muncul akibat terganggunya akses menuju lokasi usaha. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami penurunan omzet selama pekerjaan penggalian berlangsung.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan sebagian besar masyarakat saat ini menunggu kepastian pencairan dana kompensasi yang telah menjadi bagian dari pelaksanaan proyek.
“Banyak warga mengeluhkan karena mereka menunggu kompensasi. Ketika ada penggalian di depan warung atau toko, mereka terpaksa menutup usahanya untuk sementara,” ujarnya, Senin (3/8).
Lale menjelaskan, Pemerintah Kota Mataram terus memfasilitasi komunikasi antara masyarakat terdampak dengan pelaksana proyek. Namun, sebelum kompensasi dicairkan, tim appraisal independen harus terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap besaran kerugian yang dialami setiap pelaku usaha.
Menurutnya, kementerian melalui balai pelaksana proyek telah menunjuk tim appraisal untuk menghitung nilai kerugian berdasarkan kondisi riil di lapangan.
“Setelah appraisal mengeluarkan nilai yang wajar, barulah dana kompensasi tersebut dapat dicairkan,” katanya.
Saat ini, pekerjaan penggalian jaringan pipa berlangsung di sejumlah wilayah Kecamatan Ampenan, antara lain Kelurahan Banjar, Dayan Peken, dan Taman Sari. Kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas perdagangan masyarakat sehingga dampak proyek lebih banyak dirasakan oleh para pelaku usaha.
Lale juga meluruskan informasi terkait lokasi pembangunan stasiun pompa air limbah. Ia memastikan lokasi pembangunan tidak berubah dan tetap berada di kawasan Taman Jangkar sesuai dengan rencana awal.
Pihaknya berharap proses penilaian oleh tim appraisal dapat segera rampung sehingga kompensasi bagi masyarakat terdampak bisa segera dicairkan.
Secara keseluruhan, proyek SPALD-T menargetkan pembangunan layanan bagi 13.500 sambungan rumah (SR). Sebanyak 4.000 SR didanai melalui program pemerintah pusat yang didukung Bank Dunia, sedangkan 9.500 SR lainnya akan dibangun secara bertahap oleh Pemerintah Kota Mataram.
Proyek SPALD-T merupakan salah satu proyek sanitasi terbesar yang tengah dilaksanakan di Kota Mataram dengan nilai investasi sekitar Rp700 miliar melalui dukungan pendanaan Bank Dunia bersama pemerintah pusat. Program ini bertujuan meningkatkan sistem pengelolaan air limbah domestik guna memperbaiki kualitas lingkungan serta kesehatan masyarakat. (pan)

