Selong (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Timur mencatat sebanyak 28 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) selama periode Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 22 kasus merupakan HIV dan enam lainnya telah memasuki stadium AIDS. Tiga penderita dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi mengatakan, penanganan terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terus dilakukan melalui layanan pengobatan dan pendampingan agar mereka tetap sehat serta produktif.
“Pada semester pertama tahun ini kami mencatat 28 kasus HIV/AIDS, dan tiga di antaranya meninggal dunia,” ujarnya menjawab Suara NTB, Kamis (6/8/2026),
Ia menjelaskan, dari total 28 penderita, sebanyak 25 orang telah menjalani terapi Antiretroviral (ARV) secara rutin, sedangkan tiga lainnya belum mendapatkan pengobatan. Menurutnya, ARV merupakan terapi utama untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.
“Upaya utama kami adalah memastikan ODHA tetap sehat dan virusnya tidak menular kepada orang lain. Karena itu kami terus memberikan pengobatan ARV secara teratur disertai pendampingan berkelanjutan,” katanya.
Selain pelayanan pengobatan, Dikes Lombok Timur terus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan HIV melalui pendekatan ABCDE, yakni Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual di luar pasangan resmi), Be Faithful (setia pada satu pasangan), Condom (menggunakan kondom bagi yang berisiko), Drug (menghindari narkotika dan obat-obatan terlarang), serta Education (edukasi sejak dini mengenai HIV/AIDS dan cara penularannya).
Masyarakat yang memiliki faktor risiko juga diimbau untuk tidak ragu memanfaatkan layanan pemeriksaan HIV di fasilitas kesehatan terdekat. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendeteksi infeksi lebih awal sekaligus memutus rantai penularan.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri di pos-pos pelayanan kesehatan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin,” ujar Lalu Aries.
Di sisi lain, Dinkes mengingatkan pentingnya menghapus stigma terhadap ODHA. Menurutnya, dukungan keluarga dan masyarakat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup penderita.
“HIV/AIDS adalah masalah kita bersama. Mari kita cegah dengan menjaga diri dan keluarga dari virus HIV. Stop stigma terhadap ODHA, berikan dukungan agar mereka dapat menjalani pengobatan, hidup berkualitas, dan tetap beraktivitas di tengah masyarakat,” tegasnya.
Perhatian khusus juga diberikan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi salah satu kelompok dengan risiko lebih tinggi. Dikes bersama puskesmas secara aktif melakukan pemeriksaan terhadap kelompok-kelompok kunci, sekaligus mendorong PMI melakukan tes HIV secara sukarela.
Untuk memperluas deteksi dini, Dikes Lombok Timur mengintensifkan skrining melalui tiga jalur utama, yakni pemeriksaan pada kelompok berisiko, pemeriksaan wajib bagi ibu hamil guna mencegah penularan dari ibu ke bayi, serta pemeriksaan wajib bagi pasien tuberkulosis (TB) paru. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus lebih awal sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan penyebaran HIV di Lotim dapat ditekan. (rus)

