Selong (Suara NTB) – Program inovasi Lombok Timur (Lotim) Berantas Rentenir Melalui Kredit Tanpa Bunga (Berkembang) yang digagas Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) berhasil masuk nominasi penerima penghargaan tingkat nasional. Program tersebut dinilai mampu memperluas akses pembiayaan masyarakat dengan skema subsidi bunga yang efektif.
Program Lotim berkembang ini terbilang cukup inovatif dengan hanya Rp15 miliar yang dikeluarkan Pemkab Lotim inamun mampu dongkrak kredit Rp170 miliar lebih.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, H. M. Juaini Taofik saat ditemui usai menerima tim juri TPKAD Award, Kamis (6/8/2026) mengungkapkan tim penilai dari pemerintah pusat telah melakukan virtual assessment pada Jumat lalu. Setelah itu, tim langsung turun ke Lombok Timur untuk melakukan verifikasi lapangan.
“Mereka tidak hanya menerima penjelasan dari kami, tetapi juga turun langsung menemui para penerima manfaat untuk memastikan dampak program ini,” ujar Juaini.
Ia menjelaskan, terdapat tiga program unggulan TPKAD Lombok Timur yang menjadi perhatian tim penilai, yakni Lotim Berkembang melalui subsidi bunga bagi peternak dan pelaku UMKM, penguatan ekosistem keuangan inklusif, serta program Kejar (Satu Rekening Satu Pelajar) yang mendorong budaya menabung sejak dini.
Menurut Juaini, keberhasilan terbesar program Lotim Berkembang terlihat dari efektivitas penggunaan anggaran. Pemerintah daerah hanya mengalokasikan sekitar Rp15 miliar untuk subsidi bunga, namun mampu memicu penyaluran kredit hingga Rp170,7 miliar kepada masyarakat.
“Bayangkan, dengan dana subsidi Rp15 miliar, kredit yang tersalurkan mencapai Rp170,7 miliar. Yang disubsidi hanya bunganya, sementara tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) rata-rata hanya sekitar 1 persen,” jelasnya.
Ia menyebutkan, total penerima manfaat mencapai sekitar 14.564 debitur. Dari jumlah tersebut, sektor UMKM memperoleh penyaluran kredit sebesar Rp78,76 miliar kepada 8.372 debitur dengan tingkat NPL sekitar 1,206 persen.
Sementara itu, sektor peternakan sapi sejak 2024 telah menerima pembiayaan sebesar Rp92,742 miliar yang dinikmati 6.192 debitur dengan tingkat kredit bermasalah yang juga sangat rendah.
Juaini menegaskan rendahnya angka NPL tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan membayar debitur, tetapi juga karena adanya pendampingan intensif dari organisasi perangkat daerah, khususnya Dinas Peternakan.
“Keberhasilan ini bukan hanya soal keuangan. Ada pendampingan yang dilakukan dinas teknis sehingga usaha masyarakat tetap berjalan dan mampu mengembalikan pinjaman dengan baik,” katanya.
Selain mempertahankan program yang telah berjalan, Pemkab Lotim juga menyiapkan inovasi baru melalui skema Lotim Berkembang untuk petani porang. Program tersebut dirancang untuk mendukung pengembangan komoditas porang yang kini menjadi salah satu sektor unggulan daerah.
Menurut Juaini, Bupati Lombok Timur telah mengusulkan agar petani porang mendapatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan subsidi bunga dari pemerintah daerah. Langkah itu diharapkan mampu mengatasi kendala modal, terutama untuk pengadaan bibit yang selama ini masih menjadi hambatan.
“Inovasi ke depan akan kita hadirkan Lotim Berkembang untuk petani porang. Harapannya petani semakin bergairah karena kini sudah ada pabrik sebagai offtaker dan dalam waktu dekat ekspor perdana tepung porang ke Tiongkok akan dilakukan setelah izin ekspor terbit,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan program menjadi fokus utama pemerintah daerah. Menurutnya, program yang baik harus memiliki daya tahan (resilience) agar tetap berjalan di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Tak hanya membantu akses modal, Pemkab Lotim juga tengah mengembangkan skema pembiayaan yang mendorong budaya menabung. Dalam konsep tersebut, dana yang semula digunakan untuk membayar bunga pinjaman akan diarahkan menjadi tabungan emas maupun tabungan haji bagi pelaku UMKM.
“Tujuannya bukan hanya menekan ketergantungan masyarakat terhadap rentenir, tetapi juga membangun aset dan kebiasaan menabung bagi pelaku usaha,” demikian Juaini. (rus)

