Sumbawa Besar (Suara NTB) – PT Amman Mineral menggelar kegiatan pelatihan dalam penggunaan Artifisial Intelegence (AI) di kalangan mahasiswa dan para dosen di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mulai Rabu- Kamis (12-13/8).
“AI sudah masuk ke kehidupan kita sehari-hari,sehingga mau tidak mau kita harus faham bagaimana cara memaksimalkan penggunaan AI,” kata Senior Manager Sosial Impact PT Amman Mineral, Aji Suryanto kepada wartawan, Rabu (12/8).
Aji melanjutkan, AI ini hanya sebagai asisten dalam membantu dalam mempercepat pekerjaan. Ketergantungan terhadap AI juga membuat para pengguna menjadi tidak bisa berfikir kreatif dan kritis,karena sudah terkonsep dalam aplikasi.
“Kita lihat sekarang penggunaan AI banyak sekali terutama mahasiswa jangan sampai tergantung dengan AI. AI itu hanya asisten saja yang membantu tetapi jangan bergantung dengan AI,” ucapnya.
Kegiatan AI Ready ASEAN akan dilaksanakan di tiga universitas di Provinsi NTB. Kegiatan UTS merupakan pembuka dari roadshow. Kegiatan kedua, dilaksanakan di UNDOVA (KSB) dan terkahir dilaksanakan di UNRAM.
“Sebelum road show ini kita sudah melakukan TOT ke karyawan AMMAN yang sudah tahu AI ini secara fundamental. Mereka kita jadikan trainer dengan harapan mereka bisa memperluas lagi ilmu mengenai AI literasi kepada masyarakat sekitar,” jelasnya.
Di Indonesia, program ini dijalankan Kaizen Collaborative Impact sebagai mitra pelaksana lokal. Bahkan hingga pertengahan 2026 telah menjangkau lebih dari 100 institusi pendidikan di berbagai provinsi mulai dari Sulawesi hingga Papua Barat.
PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) berhasil berkolaborasi dan membawa akses dan kapasitas AI berstandar regional ASEAN ke Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui kerjasama dengan organisasi dan institusi internasional seperti ASEAN Foundation dan Google.org.
“Ini merupakan buah dari komitmen kuat kerja sama antara dunia industri dengan dunia akademis yang telah dijalin oleh AMMAN dan UTS demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di NTB,” terangnya.
Pelatihan di UTS mengikuti kurikulum AI Ready ASEAN yang terbagi ke dalam empat kategori kompetensi: AI Fundamental (pengenalan konsep dan ragam AI), AI Usage & Implementation (teknik prompting untuk efektivitas dan produktivitas dalam penggunaan AI), Scam Ready ASEAN & Digital Safety (literasi anti-hoaks dan keamanan data), serta Ethics and Privacy in AI Use (etika dan hak cipta).
“Dukungan AMMAN terhadap program ini merupakan bagian dari pilar Human Capital Development dalam PPM AMMAN, yang berfokus pada pemerataan akses pendidikan dan kesiapan kerja masyarakat sekitar wilayah operasional AMMAN di Sumbawa,” tambahnya.
Sebanyak 100 mahasiswa dan dosen UTS sebagai peserta program akan mengikuti pelatihan literasi kecerdasan buatan dengan kurikulum yang sama dengan yang dipakai di sepuluh negara ASEAN. Program ini akan menghubungkan kampus teknik di Pulau Sumbawa dengan inisiatif regional ASEAN Foundation, Google.org, dan dukungan AMMAN sebagai mitra pengembangan SDM di NTB.
Sementara, Trainer Kaizen Rizky Ayu mengatakan, kolaborasi impact ini merupakan salah satu lokal implemen partner yang ditunjuk langsung ASEAN Foundation untuk melaksanakan AI Ready ASEAN di Indonesia. Kaizen ini akan memfasilitasi dan membantu para mitra seperti dinas pendidikan bahkan PT AMMAN untuk melaksanakan program AI Ready Asean dan bekerjasama sekarang di UTS.
“Inisiasi Asean Foundation dan Google.org ini diawali dengan keresahan masifnya penggunaan AI di wilayah ASEAN. Ini bentuk tanggungjawab dari google untuk bisa memfasilitasi literasi AI di seluruh kawasan ASEAN,” terangnya.
Tentu dengan adanya inisiasi program AI Ready ASEAN ini diharapkan bisa membantu seluruh masyarakat di ASEAN agar lebih terliterasi,sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa menggunakan AI secara bertanggungjawab dan bijak.
Wakil Rektor IV UTS, Muhammad Iqbal, M.M.Inov, menyambut baik pelaksanaan AI Ready ASEAN di lingkungan kampus. Menurutnya, kehadiran program tersebut menjadi momentum penting bagi civitas akademika UTS untuk memahami perkembangan AI sekaligus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkannya secara tepat.
Ia menilai perkembangan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta pemahaman terhadap etika dan keamanan digital. Dengan demikian, mahasiswa maupun dosen tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran, penelitian, maupun pengembangan inovasi.
Iqbal Sanggo sapaan akrabnya, berharap kerja sama UTS dengan AMMAN, ASEAN Foundation dan para mitra lainnya dapat terus berkembang,sehingga manfaat literasi AI tidak hanya dirasakan oleh 100 peserta pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada civitas akademika dan masyarakat yang lebih luas.
“Program Training of Trainers (ToT) menjadi langkah strategis untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan UTS,” harapnya. (ils/*)

