BerandaNTBKOTA BIMATenun Bima Tak Cukup Andalkan Nilai Budaya

Tenun Bima Tak Cukup Andalkan Nilai Budaya

- Advertisement -

Kota Bima (Suara NTB) – Nilai budaya yang melekat pada Tenun Bima dinilai belum cukup untuk membuat produk kerajinan itu bersaing di pasar yang lebih luas. Perajin perlu memperkuat desain, inovasi, legalitas, kemasan hingga standar mutu agar tenun lokal dapat berkembang sebagai produk ekonomi kreatif.

Pengawas Koperasi Muda Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima, Edy Rahman mengatakan Tenun Bima memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan. Namun, pengembangan tersebut perlu diikuti penyesuaian dengan tuntutan pasar.

“Tenun Bima tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi harus mampu mentransformasi diri menjadi produk ekonomi kreatif unggulan yang siap menembus pasar global,” ujarnya Senin (17/8).

Menurut Edy, salah satu hal yang perlu diperkuat adalah tampilan dan karakter produk. Motif dan nilai budaya tetap menjadi identitas utama tenun, tetapi inovasi desain, pengembangan produk serta branding diperlukan agar produk lebih mudah diterima konsumen di luar pasar lokal.

Selain persoalan desain, aspek legalitas juga menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha. Edy menyebut kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan pendaftaran merek dapat memberikan kepastian sekaligus memperkuat perlindungan terhadap produk lokal ketika dipasarkan lebih luas.

Tuntutan pasar juga berkaitan dengan mutu dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Produk lokal yang ingin masuk pasar nasional maupun ekspor perlu memenuhi sejumlah persyaratan,termasuk dari sisi kemasan dan standar produksi.

“Peluang ekspor sangat terbuka lebar asalkan didukung oleh legalitas yang sah, kemasan yang menarik, serta penerapan standar mutu seperti GMP dan sertifikasi halal,” ujarnya.

Edy mengatakan persoalan tersebut tidak hanya dihadapi perajin tenun. Produk UMKM lain seperti makanan, minuman, kopi bubuk dan kerajinan lokal, juga membutuhkan pembenahan agar dapat bersaing di pasar yang lebih besar.

“Sebagian besar UMKM kita bergerak di sektor makanan, minuman, dan kerajinan lokal. Peluang menembus pasar nasional sangat terbuka,” katanya.

Untuk mendukung proses tersebut, Diskoperindag Kota Bima menyiapkan pendampingan bagi pelaku UMKM, termasuk perajin Tenun Bima di Kelurahan Ntobo. Pendampingan mencakup percepatan legalitas usaha, perbaikan kemasan, standardisasi produk dan pemasaran digital.

Dengan demikian, pengembangan Tenun Bima tidak hanya bertumpu pada upaya mempertahankan warisan budaya. Produk tersebut juga dituntut memiliki nilai tambah dan daya saing agar mampu mengikuti perubahan pasar tanpa kehilangan identitas lokalnya. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO