BerandaEKONOMINTB Ekspor Kerajinan Ketak Lombok ke Tiga Negara

NTB Ekspor Kerajinan Ketak Lombok ke Tiga Negara

- Advertisement -


Mataram (Suara NTB) – Produk kerajinan anyaman ketak asal Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menembus pasar internasional. Pemerintah Provinsi NTB melepas ekspor tiga kontainer produk home décor berbahan anyaman ketak produksi PT Fatih Craft Lombok, Senin (24/8).


Tiga kontainer tersebut dikirim ke Jerman, Belgia, dan Malaysia. Pelepasan ekspor dilakukan oleh istri gubernur, sekaligus Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, Hj. Sinta Iqbal, bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Lalu Wiranata, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait lainnya.


Ekspor ini menunjukkan semakin terbukanya peluang produk kerajinan NTB untuk masuk ke pasar global.


Ketua Dekranasda NTB, Hj. Sinta Iqbal, mengapresiasi konsistensi PT Fatih Craft Lombok yang mampu membawa produk kerajinan lokal hingga ke pasar Eropa.


Menurut Sinta, keberhasilan tersebut penting bukan hanya dari sisi nilai ekspor, tetapi juga sebagai contoh bagi para perajin kecil di NTB bahwa produk lokal memiliki peluang besar jika dikelola secara kreatif dan mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.


“Saya sangat berterima kasih. Ini sudah kelima kalinya PT Fatih Craft Lombok mengekspor produk kita dan membawa produk NTB ke pasar internasional,” kata Sinta.


Ia mengaku mendapatkan banyak cerita dan pembelajaran ketika pertama kali berkunjung ke tempat produksi Fatih Craft. Salah satu hal yang menurutnya menarik adalah cara perusahaan tersebut mendapatkan pembeli dari luar negeri.


Berbeda dengan anggapan bahwa mencari pembeli ekspor harus selalu melalui pameran internasional, PT Fatih Craft justru berhasil mendapatkan pembeli atau buyer melalui media sosial, khususnya Facebook.


“Cara mendapatkan buyer-nya cukup out of the box. Saya berpikir untuk mendapatkan buyer ekspor harus ikut pameran di sana-sini, dibawa ke berbagai tempat dan diperkenalkan. Ternyata mereka mendapatkan buyer dari Facebook,” ujarnya.


Sinta menilai pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran bagi perajin lain di NTB. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing dan mengelola komunikasi digital menjadi salah satu kunci agar peluang pasar dari luar negeri tidak terlewatkan.


Sinta juga menilai masuknya produk ketak NTB ke pasar Eropa menjadi indikator bahwa produk tersebut telah melewati persyaratan dan kurasi yang tidak sederhana.


Ia menyebut pasar Eropa memiliki standar yang ketat, termasuk terkait kualitas produk dan aspek lingkungan.


Karena itu, ia meminta keberhasilan Fatih Craft tidak berhenti sebagai pencapaian satu perusahaan. Produk yang diminati pasar internasional, menurutnya, perlu menjadi referensi bagi perajin lain dalam mengembangkan desain dan kualitas produknya.


Sinta juga menekankan pentingnya menjaga identitas daerah dalam setiap produk yang dibawa ke pasar internasional. Ia berharap produk kerajinan asal NTB tetap membawa identitas NTB, Indonesia ketika dipasarkan di luar negeri.
Di sisi lain, Sinta menyoroti masih adanya sejumlah persoalan yang perlu dibenahi untuk memperkuat industri kerajinan NTB, salah satunya ketersediaan bahan baku.


Menurutnya, bahan baku yang berasal dari Kalimantan harus melewati Jawa sebelum sampai ke NTB. Jika bahan baku dapat diproduksi dan diolah langsung di NTB, rantai distribusi tersebut dapat dipangkas. “Kalau bisa diproduksi langsung dari Sumbawa, ada dua tahapan distribusi yang bisa kita potong. Ini tentu akan membuat biaya lebih efisien,” ujarnya.


Karena itu, Dekranasda NTB bersama Disperindag akan mendorong kerja sama dengan para pihak di Sumbawa untuk mencari skema pengembangan bahan baku tersebut.


Selain bahan baku, penguatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Sinta mendorong agar keterampilan kerajinan mulai diperkenalkan kepada generasi muda melalui sekolah, termasuk SMA, SMK hingga SLB.


Sinta pun mengajak para perajin untuk tidak berhenti berinovasi. Menurutnya, produk kerajinan yang mampu menembus pasar internasional harus terus menjaga kualitas, kreativitas dan inovasi agar permintaan pasar dapat dipertahankan.


Sementara itu, Kepala Disperindag NTB, H. Lalu Wiranata, mengatakan pemerintah saat ini fokus mendorong peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi untuk menjawab permintaan pasar ekspor.


Menurutnya, meningkatnya permintaan harus diimbangi dengan kemampuan produksi agar konsumen internasional mendapatkan kepastian pasokan sepanjang tahun.


Pemerintah juga tengah mendorong perlindungan merek agar identitas NTB tetap melekat pada produk meskipun proses ekspor dilakukan melalui daerah lain.


“Kita berkoordinasi dan bekerja sama dengan Kementerian Hukum untuk mematenkan mereknya. Fasilitasinya ada di Disperindag. Jadi, walaupun nanti diekspor dari Jogja atau Surabaya, tetap ada merek Lombok di produk tersebut,” jelas Wiranata.


Persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah belum tersedianya titik keberangkatan ekspor kontainer langsung dari NTB. Saat ini, produk yang akan diekspor masih harus dikirim terlebih dahulu ke Surabaya atau daerah lain sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.


Wiranata berharap pengembangan Pelabuhan Gili Mas ke depan dapat membuka peluang bagi NTB untuk menjadi titik departure ekspor langsung.


“Harapan kita ke depan ada departure point ekspor di sini. Kita belum memiliki pelabuhan kontainer untuk ekspor langsung. Kalau ekspor bisa dilakukan dari NTB, devisa dan penerimaan lainnya juga akan lebih banyak masuk ke daerah,” pungkasnya. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO