Mataram (Suara NTB) – Harga cabai rawit merah dan beberapa komoditas lain mengalami lonjakan harga beberapa hari ke belakang. Kenaikan harga ini imbas adanya perayaan hari besar keagamaan, Maulid Nabi Muhammad yang biasanya dirayakan selama bulan Rabiul Awal di Pulau Lombok. Selain itu, terjadi juga penurunan pasokan cabai besar di tingkat distributor atau petani, sehingga mengakibatkan terjadi lonjakan hingga 5 persen atau Rp2,9 ribu dari harga sebelumnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Lalu Wiranata, mengatakan pihaknya kini tengah berkoordinasi insentif dengan para mitra dan produsen untuk memastikan harga bapok bisa ditekan pada saat hari besar keagamaan berikutnya seperti Natal dan tahun baru.
“Enggak cuma Operasi Pangan Murah (OPD), tapi berbagai kegiatan juga dengan kabupaten/kota dan mitra-mitra kita,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Berdasarkan data terakhir, beberapa komoditas yang mengalami lonjakan harga yaitu Cabai Rawit Merah Melonjak sebesar Rp2.917 atau sekitar 5 persen.
Daging Sapi dan Daging Ayam Ras, seluruh varian daging sapi baik paha belakang, paha depan, dan sandung lamur serta daging ayam ras mengalami kenaikan harga karena adanya peningkatan permintaan masyarakat.
“Ikan Bandeng mengalami kenaikan harga sebesar Rp714 menjadi Rp48 ribu akibat pasokan yang menurun. Serta beberapa sayuran seperti Ketimun dan Kacang Hijau mengalami peningkatan harga tipis akibat adanya peningkatan permintaan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, meski beberapa komoditas mengalami lonjakan harga, secara keseluruhan, mayoritas komoditas kebutuhan pokok di NTB berada dalam kondisi relatif stabil. Bahkan, beberapa komoditas mengalami penurunan harga seperti cabai merah keriting dan cabai merah besar mengalami penurunan harga masing-masing 2 persen.
Kemudian cabai rawit hijau dan bawang merah mengalami penurunan harga akibat bertambahnya pasokan dan stok, di mana cabai rawit hijau turun sebesar Rp333 menjadi Rp27 ribu per kg dan bawang merah turun sebesar Rp1.167 menjadi Rp29 ribu per kg. Selanjutnya ada bawang putih, jeruk lokal, dan tomat, dan ikan tongkol mengalami penurunan akibat kelebihan stok.
Beberapa komoditas juga tidak tersentuh inflasi maupun deflasi, seperti beras. Seluruh varian beras baik yang medium, premium, maupun beras SPHP tercatat masih stabil. Termasuk juga minyak goreng dan gula pasir tidak mengalami pergeseran harga.
“Secara keseluruhan, faktor utama pemicu fluktuasi harga pada periode ini adalah kelancaran distribusi pasokan lokal untuk komoditas hortikultura serta tren peningkatan konsumsi pada produk peternakan,” pungkasnya. (era)


