Mataram (Suara NTB) – Lahan yang sebelumnya dibiarkan tidur kini mulai memberi harapan baru bagi petani Desa Karombo, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Komoditas tebu perlahan tumbuh menjadi salah satu pilihan utama, seiring semakin luasnya lahan yang dimanfaatkan petani setempat.
Kepala Desa Karombo Firman menyebut, perkembangan tebu di wilayahnya dalam beberapa tahun terakhir cukup pesat. Dari awalnya hanya beberapa hektare, kini areal tebu di Desa Karombo telah mencapai lebih dari 100 hektare.
“Awalnya dulu hanya beberapa hektare, tapi karena sangat menjanjikan, lahan-lahan yang tidak terpakai sudah dimanfaatkan untuk komoditas tebu,” kata Firman.
Menurutnya, salah satu alasan petani mulai menanam tebu adalah biaya operasional yang relatif lebih ringan dibandingkan jagung. Untuk satu hektare tebu, kebutuhan pupuk sekitar 400–500 kilogram. Harga tebu yang dinilai menjanjikan juga turut mendorong minat masyarakat.
Bagi Firman, perkembangan tersebut perlu mendapat dukungan. Pemerintah desa mendorong masyarakat memanfaatkan lahan tidak produktif agar tetap menghasilkan pendapatan.
“Kami harus mendukung selama itu ada keuntungan dan manfaat untuk petani. Lahan-lahan tidur yang tidak bisa ditanami komoditas jagung sekarang bisa ditanami tebu, supaya tidak ada lahan kosong,” ujarnya.
Ia menyebut, budidaya tebu memberikan peluang pendapatan menarik. Petani juga tidak harus memiliki lahan luas untuk memperoleh hasil.
“Kalau tebu, 30 atau 40 are bisa berisi pendapatan sekitar 15 juta sampai 20 juta, tergantung perawatannya,” jelasnya.
Dalam mendorong perkembangan tebu, pemerintah desa sendiri telah bekerja sama dengan pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di wilayah setempat. Perusahaan menurutnya melalui tenaga atau mitranya melakukan sosialisasi dan menjembatani kerja sama dengan petani, sementara pemerintah desa membantu menyampaikan informasi serta menindaklanjuti kebutuhan petani.
“Kami follow up petani dengan perusahaan agar bisa berjalan lancar. Kami hanya menyosialisasikan ke masyarakat agar lahan-lahan yang tidak dipakai dulu bisa dimanfaatkan,” katanya.
Kerja sama sejauh ini berjalan cukup baik. Namun, meluasnya areal tanam mulai memunculkan persoalan baru, terutama pada proses panen dan penggilingan.
Kapasitas penggilingan perusahaan terbatas sehingga terdapat batas waktu penerimaan tebu. Di lapangan, masih banyak tanaman yang belum dipanen karena keterbatasan tenaga kerja.
“Sekarang sampai batas bulan 10 (Oktober), sedangkan di lapangan masih banyak tebu-tebu yang belum dipanen karena faktor tenaga yang kurang,” ungkap Firman.
Saat memasuki masa panen, tebu harus berbagi tenaga dengan komoditas lain seperti jagung dan tembakau. Untuk memenuhi kebutuhan, sebagian pekerja didatangkan dari luar daerah, termasuk Lombok dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kondisi ini dikhawatirkan merugikan petani jika tanaman tidak segera dipanen. Terlebih, lokasi Desa Karombo cukup jauh dari perusahaan sehingga biaya operasional dan pengangkutan lebih besar.
Firman berharap penambahan luas tanam diikuti kemampuan penyerapan dan penggilingan yang memadai.
“Harapannya penggilingan itu jangan dikasih batasan sampai bulan sepuluh. Kalau satu tahun saja tidak dipanen, maka bisa rugi petani karena tidak ada pendapatan,” tegasnya.
Menurutnya, kebutuhan tenaga panen juga perlu diidentifikasi sejak awal agar proses panen berjalan sesuai target.
Di sisi lain, kenaikan harga tebu menjadi harapan petani, terutama yang berada jauh dari lokasi perusahaan. Jarak membuat biaya mobilisasi, pengangkutan, hingga tenaga kerja lebih tinggi.
“Harapannya pemerintah daerah bisa berkomunikasi dengan pihak perusahaan untuk bisa menaikkan harga. Karena semakin jauh lokasi penanaman itu, semakin besar biaya operasionalnya,” ujarnya.
Perkembangan tebu juga mulai memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Kehadiran tenaga kerja dari luar daerah selama musim panen meningkatkan permintaan berbagai kebutuhan dan memberi manfaat bagi UMKM desa.
“Efek ekonominya sangat luar biasa. Tenaga-tenaga dari luar itu kan tidak pulang, mereka tinggal beberapa bulan selama proses panen. Artinya, perputaran uang, kebutuhan makan dan lain sebagainya di situ saja,” kata Firman.
Pemilik kendaraan juga memperoleh peluang pendapatan dari aktivitas pengangkutan tebu. Kendaraan yang sebelumnya tidak selalu memiliki pekerjaan kini dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses produksi dan distribusi hasil panen.
Namun, pengembangan tebu masih membutuhkan dukungan infrastruktur, terutama irigasi. Sumber air tersedia, tetapi jaringan irigasi belum maksimal.
“Kalau irigasinya ada, airnya jalan, artinya tebu yang kemarin mungkin kurang hasilnya bisa lebih maksimal. Begitu juga dengan jagung dan tembakau karena sangat membutuhkan air,” tandasnya. (bul)


