Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa mencatat sekitar 49 hektar lahan tanaman padi dan jagung terancam puso alias gagal panen. Tanaman padi terancam gagal panen tersebar di Kecamatan Lape seluas 18 hektar, Kecamatan Plampang seluas 21 hektar dan Desa Labuhan Kuris seluas 10 hektar tanaman jagung.
“Total ada sekitar 49 hektar lahan yang sudah dipastikan puso baik jagung maupun padi. Sementara, yang berada dalam kondisi terancam puso ada sekitar 21 hektar,” kata Kabid Perlindungan Tanaman dan Pengembangan Usaha Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Rusmini kepada Suara NTB, Selasa (1/9).
Berdasarkan data lanjutnya, total luas tanam padi di Desa Hijrah, Kecamatan Lape seluas 435 hektar dan tanaman jagung di Labuhan Kuris seluas 40 hektar. Sementara, di Desa Brang Kolong, Kecamatan Plampang sekitar 220 hektar dengan rata-rata usia tanaman berkisar 40-70 hari. Penyebab utama tanaman itu tidak bisa diselamatkan, karena tidak ada sumber air yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengairi sawah mereka.
Tanaman yang dipastikan gagal panen tersebut, pihaknya sudah menyiapkan skema mengganti bibit petani. Hal itu dilakukan agar petani yang terdampak bencana kemarau tidak terlalu merugi.
“Kita sudah data lahan yang dipastikan gagal panen tersebut dan dalam waktu dekat kami akan segera turun ke lapangan untuk memberikan bantuan bibit dan pupuk,” ucapnya.
Di satu sisi, pihaknya juga menemukan pelanggaran pola tanam yang dilakukan oleh petani. Dari hasil koordinasi dengan bidang pengairan tidak semua lahan bisa ditanami jagung dan padi,karena musim kemarau melanda wilayah tersebut.
Kepala Satuan Operasi Unit Pengelola Bendungan (UPB) Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara 1 (BBWS NT 1) Kabupaten Sumbawa 2, Abdurrakhman dikonfirmasi secara terpisah mengaku adanya pelanggaran pola tanam oleh petani. Pihaknya telah menyarankan khusus wilayah irigasi Bendungan Tiu Kulit yang meliputi Kecamatan Plampang dan Lape diperbolehkan melakukan penanaman seluas 458 hektar. “Tetapi yang ditanam sekitar 700 hektar sehingga terjadi gagal panen,” ucapnya.
Pihaknya juga sudah turun melakukan pengecekan lapangan dan hasilnya lahan pertanian padi tersebut,sudah tidak bisa diselamatkan (puso). Sementara hasil pengecekan lapangan luas lahan yang berpotensi gagal panen mencapai 60 hektar karena sudah tidak ada air yang bisa dimanfaatkan.
“Selain wilayah tersebut masih dalam kondisi aman dan posisi air saat ini masih cukup untuk didistribusikan ke para petani yang masih membutuhkan air,” tukasnya. (ils)


