BerandaNTBLOMBOK TIMURBelanjakan Kembali Digelar, Upaya Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Tak Benda

Belanjakan Kembali Digelar, Upaya Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Tak Benda

Gemuruh sorak penonton membahana di tengah lapangan terbuka. Dua pemuda bertelanjang dada saling berhadapan, mata mereka saling menatap tajam. Tanpa pukulan, tanpa cekikan, hanya bantingan dan tendangan yang menjadi andalan. Inilah Belanjakan—seni beladiri khas masyarakat Sasak yang kembali dihidupkan setelah nyaris 25 tahun lenyap ditelan zaman.

TRADISI gulat Sasak yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Masbagik Raya ini kembali digelar dalam Festival Masbagik yang ke-11. Sebuah momen bersejarah, mengingat terakhir kali tradisi ini digelar pada tahun 1995. Kini, setelah hampir seperempat abad menghilang, Belanjakan bangkit dari tidur panjangnya.


Acara tahun 2026 ini secara resmi dibuka Bupati Lotim, H. Haerul Warisin pada Senin (7/9/2026) berlokasi di depan Perempatan Masbagik. “Acaranya sudah mulai dua hari lalu dan seremoni pembukaan kami buka hari ini (Senin),” terang ketua panitia, Mirsoan Ilhamdi yang akrab disapa Ming, kepada Suara NTB, Senin (7/9/2026).


Dulu, Belanjakan digelar di atas alas jerami saat usai panen raya sebagai bentuk syukur dan hiburan masyarakat. Kini, tradisi tersebut dikemas dalam ajang budaya dengan alas matras, tanpa mengurangi esensi dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.


Tidak ingin warisan leluhur ini benar-benar punah, para pemerhati budaya bahu-membahu mengangkat Belanjakan ke permukaan. Upaya ini dimulai pada 2016, setelah hampir 25 tahun tradisi ini hilang dari permukaan bumi Lombok.


Belanjakan bukan sekadar ajang adu ketangkasan. Di balik setiap bantingan dan tendakan, terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang dijunjung tinggi. Tidak ada pukulan, tidak ada cekikan, tidak ada caci maki—hanya bantingan dan tendakan yang menjadi ciri khas seni beladiri ini.


Aturan mainnya pun begitu ketat. Para peserta menggunakan pakaian adat yang disebut bekancut, begitu pula dengan panitia penyelenggara. Dalam pertandingan, peserta hanya diperbolehkan menggunakan kaki untuk menendang lawan, dengan syarat tegas tidak mengenai kelamin. Saat merasa kewalahan, peserta bisa berhenti di tengah pertandingan, dan lawan tak diperkenankan melanjutkan bantingan.


Wasit memiliki wewenang penuh untuk menghentikan pertandingan bila dianggap darurat. “Wasit memberikan waktu jeda dan hitungan sampai 10 bila terjadi tendangan atau lanjakan,” jelas Ming. Diskualifikasi pun berlaku bagi peserta yang sengaja memukul, mencekik, mencakar, atau meludahi lawan.


Belanjakan memiliki istilah-istilah unik yang memperkaya khazanah budaya Sasak. Ngokotang berarti mengangkut, mekokoqang berarti mencekik, dan nimpagang berarti membanting. Setiap gerakan memiliki penilaian tersendiri: tendangan di bawah pinggang bernilai 1, tendangan di bawah badan bernilai 2, sedangkan tendangan ke kepala dan bantingan mendapat nilai 3.


Di tengah euforia kebangkitan Belanjakan, ada kekhawatiran yang menggelayut. Setelah diusulkan masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) secara nasional, masyarakat berharap pengakuan resmi segera terwujud. Langkah ini penting agar tidak ada lagi pihak luar yang mengklaim tradisi ini sebagai milik mereka.


Belanjakan bukan hanya sekadar olahraga atau hiburan. Ini adalah identitas, warisan leluhur yang telah mengakar sejak puluhan tahun silam di Masbagik dan sekitarnya. Dengan digelarnya kembali tradisi ini, para pemuda memiliki ruang positif untuk menyalurkan energi, sekaligus mencegah potensi konflik.


“Tujuan utama digelarnya kegiatan ini, selain sebagai ajang hiburan juga bisa menyediakan ruang agar tidak terjadi konflik antar pemuda,” pungkas Ming.
Kini, di tengah arus modernisasi yang semakin deras, Belanjakan berdiri tegak sebagai monumen budaya—pengingat bahwa kearifan lokal tetap relevan untuk dijaga dan diwariskan. Sebuah tradisi yang pernah nyaris mati, kini kembali bernyawa.


Adapun para peserta memang tidak ada pengkhususan. Para peserta yang selama ini ikut memang merupakan warga yang sudah terbiasa. Memiliki kemampuan silat khasa Sasak yang diketahui sudah turun temurun melekat di tengah masyakarat. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN










VIDEO