Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim) H. Haerul Warisin menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga Lombok Timur sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Karena itu, ketersediaan sarana produksi pertanian (saprodi), khususnya pupuk, menjadi perhatian penting pemerintah daerah.
H. Iron, sapaan Bupati Litim mengatakan, Lotim memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pangan, mulai dari jagung, beras, telur hingga daging. Bahkan, Lombok Timur tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan daerah lain.
“Lombok Timur adalah penyangga pangan nasional. Untuk kebutuhan jagung, beras, telur dan daging, kita tidak perlu mendatangkan dari luar. Kita bahkan mampu membantu pemerintah daerah lain,” ujarnya.
Salah satu kontribusi tersebut terlihat dari sektor peternakan. Haerul menyebut hampir 70 persen kebutuhan daging di Kota Mataram dipasok dari Lotim.
Menurutnya, predikat sebagai daerah penyangga pangan harus diikuti dengan jaminan ketersediaan saprodi bagi petani. Pupuk, kata dia, tidak boleh menjadi barang yang sulit diperoleh petani.
“Kalau kita menjadi kabupaten penyangga pangan, maka saprodinya harus diamankan. Pupuk tidak boleh sulit,” tegasnya.
H. Iron juga menyoroti karakteristik kepemilikan lahan pertanian di Lombok Timur. Menurutnya, hanya sebagian kecil masyarakat yang memiliki lahan pertanian lebih dari dua hektare.
Sebagian besar petani justru menggarap lahan dengan luasan relatif kecil. Karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan petani kecil tetap mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai ketentuan.
“Di Lombok Timur, orang yang memiliki lahan lebih dari dua hektare bisa dihitung dengan jari. Yang lain hanya sekitar lima are. Itu wajib menerima pupuk subsidi,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa sebagian bahan baku pupuk masih bergantung pada pasokan dari luar negeri, termasuk dari negara seperti Rusia. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga ketersediaan pupuk bagi petani.
Di sektor tanaman pangan, Bupati Lotim juga menyinggung harga jagung. Ia menyebut harga yang menjadi acuan berada di angka Rp6.500 per kilogram.
Petani diminta melaporkan apabila ada tengkulak yang membeli jagung di bawah harga tersebut. “Kalau ada tengkulak membeli di bawah Rp6.500 per kilogram, laporkan,” pesannya.
Menurutnya, perlindungan terhadap petani tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pupuk, tetapi juga kepastian harga hasil produksi.
Selain sektor pertanian, persoalan infrastruktur jalan juga menjadi perhatian Pemkab Lombok Timur. Haerul mengakui masih banyak ruas jalan dalam kondisi kurang baik.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyiapkan anggaran sekitar Rp200 miliar pada tahun depan untuk pembangunan jalan.
Menurut Bupati, kondisi jalan sangat menentukan kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat. Jalan yang baik akan memudahkan distribusi pupuk menuju lahan pertanian sekaligus memperlancar pengangkutan hasil bumi dari sentra produksi menuju pasar.
Untuk mendukung pembangunan daerah, Haerul juga mengajak masyarakat untuk taat membayar pajak daerah. Menurutnya, sekecil apa pun kontribusi masyarakat tetap memiliki manfaat bagi pembangunan.
Di sisi lain, ia turut menekankan pentingnya keberadaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam mendukung program sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dengan berbagai program tersebut, Pemkab Lombok Timur menegaskan pembangunan daerah diarahkan tidak hanya untuk memperkuat sektor pangan, tetapi juga meningkatkan konektivitas, pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. (rus)



