Tanjung (Suara NTB) – Putri Mahkota Swedia, sekaligus Duta Kehormatan United Nation Development Program (UNDP), Victoria melakukan kunjungan non-kenegaraan ke Kabupaten Lombok Utara (KLU) pada Sabtu (5/9). Ia merespons positif bentuk penyelenggaraan pendidikan selama tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga kesiapsiagaan mitigasi bencana oleh pihak sekolah.
Dalam kunjungan ke Lombok Utara itu, Victoria didampingi Kepala Perwakilan/Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, Wakil Menteri, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, serta rombongan, baik dari UNDP dan Pemprov NTB. Rombongan diterima oleh Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., beserta pihak sekolah.
Dua lokasi yang menjadi titik kunjungan rombongan Putri Victoria di KLU, adalah SMKN 1 Pemenang, dan Puskesmas Pemenang. Dua fasilitas ini diketahui mendapat sokongan dana rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dari UNDP.
Tibanya di SMKN 1 Pemenang, Victoria disuguhi tari tradisional oleh siswa setempat, melihat-lihat kondisi sekolah, dan berdiskusi dengan guru dan siswa. Baik guru dan siswa, sama-sama bercerita kenangan saat gempa pada 5 Agustus 2018 silam. Fikar Adi Putra, salah satu siswa, mengaku sampai saat ini masih merasakan trauma dari kejadian besar waktu itu.
“Saat gempa itu, saya masih kelas 3 SD. Malam hari, kami mengaji tiba-tiba ada gempa,” ucapnya.
Sementara, Guru Mapel PPKN, Hasanawati, mengakui kondisi fisik sekolah setelah mendapat bantuan UNDP, jauh lebih baik dibandingkan sebelum gempa. Siswa dan guru merasa nyaman dengan kendati trauma gempa masih belum hilang sepenuhnya. “Sekarang ada gempa kecil saja dan terdengar suara loteng, anak-anak spontan lari,” ucapnya.
Hasnawati mengatakan, SMKN 1 Pemenang mengalami kondisi yang hampir sama dengan sekolah lain di Lombok Utara. Setelah gempa, kelas-kelas menggunakan kelas darurat, kondisi ruangan saat siang hari terasa sangat panas, serta tergenang air saat hujan.
SMKN 1 Pemenang memiliki halaman yang luas. Sehingga oleh masyarakat di sekitar sekolah, lapangan sekolah dijadikan tempat pengungsian sementara atau titik kumpul evakuasi.
“Dengan bangunan dari UNDP, kami merasa aman, nyaman. Struktur bangunan kuat, dengan desain 2 pintu tiap kelas, memungkinkan siswa bisa melakukan evakuasi mandiri lebih cepat,” terangnya.
Pihak sekolah SMKN 1 Pemenang, mengaku sangat berterima kasih kepada UNDP atas bantu tersebut. Jika memungkinkan, pihak sekolah juga berharap mendapat bantuan tambahan fasilitas yang mendukung aktivitas belajar siswa bisa lebih optimal.
Tidak hanya itu, pihak sekolah juga bercerita kepada Victoria dan rombongan. Bahwa, kesiapsiagaan mitigasi bencana menjadi program sekolah. Langkah-langkah yang sudah dan rutin dilakukan tiap tahun adalah, pengenalan gempa di setiap Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Simulasi gempa melibatkan masyarakat dan instansi teknis di daerah, hingga menanamkan ingatan mitigasi melalui lagu gempa.
Mendengar curhat pihak sekolah, Putri Victoria maupun Kepala Perwakilan UNDP Indonesia mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan sekolah. Hal tersebut terlihat dari pertanyaan sekaligus keingintahuan tindakan yang dilakukan sekolah saat gempa terjadi.
“Apakah karena pengalaman gempa bumi, merubah cara pemerintah membangun sekolah? Apakah praktik (simulasi) dilakukan bersama masyarakat atau oleh siswa saja?” tanya Victoria.
Sementara Zara Ferrer, mengaku ikut senang mendengar kesiapsiagaan sekolah menghadapi potensi bencana sekaligus sebagai bentuk peringatan dini.
“Saya ingin tahu, apakah cara sekolah di sini diadopsi oleh sekolah lain atau menjadi standar nasional yang bisa direplikasi di daerah lain,” tanya Zara.
Zara juga merespons simulasi bencana di SMKN 1 Pemenang. Ia juga berharap, program mitigasi bencana menjadi kurikulum Kemendiknas untuk dapat dilakukan di satuan pendidikan secara nasional. (ari)



