Mataram (Suara NTB) – Kekurangan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di NTB,masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah daerah. Sejumlah sekolah kesulitan menyelenggarakan pendidikan akibat kekurangan tenaga pendidik. Dinas Kepemudaan dan Olahraga akan mengusulkan formasi guru SLB pada seleksi penerimaan aparatur sipil negara.
Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Tenaga Keolahragaan (GTKTK) Dikpora NTB, Muazzam membenarkan, sejumlah sekolah masih kekurangan guru khususnya untuk sekolah luar biasa. Pihaknya berencana meminta kelonggaran pemerintah pusat, agar dapat memberikan kesempatan bagi guru non ASN untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pihaknya juga akan mengusulkan formasi untuk mengisi kekurangan guru SLB itu. Proses pendapataan mulai dilakukan di sejumlah sekolah yang masih kekurangan guru tersebut. “Kami akan usulkan dan diharapkan formasi guru SLB dibuka untuk seleksi CPNS,” harapnya.
Muazzam menegaskan, apabila usulan formasi masih menemui jalan buntu, maka diharapkan pemerintah pusat memberikan solusi alternative agar kebutuhan guru di SLB terpenuhi. “Kalaupun tidak, kami juga berharap ada kebijakan lain dari pemerintah yang bisa mengakomodir untuk bisa mengisi kebutuhan di sekolah,” pungkasnya
Diketahui, pembagian rombongan belajar di SLB berbeda dengan sekolah pada umumnya. Rombongan belajar di sekolah regular ditentukan berdasarkan kuantitas ideal siswa dalam satu kelas. Sementara di SLB, rombel dibagi berdasarkan ketunaan siswa. Karena itu, meski jumlah siswa SLB tergolong relatif lebih sedikit daripada sekolah reguler, kebutuhan guru tetap banyak.
Sebagaimana dialami SLBN 3 Mataram yang saat ini hanya memiliki 14 guru. Berbanding terbalik dengan kuantitas keseluruhan siswa yang berjumlah 101 dengan berbagai ketunaan. Begitu juga dengan SLBN 2 Mataram yang kini hanya memiliki 27 guru. Sementara, siswanya berjumlah 198 orang dengan ragam hambatan.
Pelaksana Harian (Plh) SLBN 2 Mataram, Nurlaeli Ekawati menyampaikan, pihaknya masih kekurangan guru,terutama guru agama Islam dan olahraga. Alhasil, kekosongan dua guru mata pelajaran tersebut mesti diisi oleh guru kelas.
“Harapannya ada penambahan guru terutama. Kurang banget kalau di sini,” ujarnya. (sib)



