Mataram (Suara NTB) – Keamanan dan kenyamanan Kota Mataram dinilai mulai terganggu oleh maraknya aksi kelompok yang berkonvoi mengendarai sepeda motor dengan diduga bersenjata tajam (Sajam) yang berkeliaran saat malam. Fenomena ini bahkan mulai dikeluhkan tamu hotel karena merasa khawatir saat datang ke Mataram pada malam hari.
Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Made Adyasa, menyampaikan, sejumlah tamu hotel yang melakukan check-in tengah malam mengaku takut setelah melihat kelompok pengendara motor berkumpul dan berkonvoi di sejumlah ruas jalan.
“Sering tamu yang check-in tengah malam mengeluhkan itu. Mereka melihat banyak konvoi motor dan merasa takut,” kata Made Adyasa, Jumat, 11 September 2026.
Made mengatakan, informasi mengenai keberadaan kelompok tersebut justru banyak diketahuinya dari keluhan tamu hotel. Beberapa tamu yang datang sekitar pukul 01.00 Wita hingga 01.30 Wita mengaku melihat kelompok pengendara motor berkumpul di sejumlah titik.
Menurutnya, keberadaan kelompok tersebut tidak hanya menyangkut persoalan keamanan, tetapi juga dapat berdampak terhadap citra Kota Mataram sebagai kota jasa dan tujuan wisata.
Ia menyebut kawasan Udayana dan sejumlah titik di jalur selatan Mataram menjadi lokasi yang perlu mendapat perhatian. Menurutnya, sebagian kelompok tersebut diduga berasal dari wilayah luar Kota Mataram dan kemudian berkumpul di kawasan kota.
“Walaupun mereka belum tentu menyerang tamu, image kota kita jadi jelek. Apalagi kita ini kota jasa,” ujarnya.
Made meminta aparat keamanan bersama Pemerintah Kota Mataram lebih serius mengantisipasi aktivitas geng motor, terutama pada malam hingga dini hari.
Salah satu langkah yang dinilai perlu dilakukan adalah mengaktifkan kembali pos-pos pengamanan di lokasi yang rawan menjadi tempat berkumpulnya kelompok tersebut. Patroli malam juga dinilai perlu diperkuat, termasuk di sejumlah titik perbatasan.
“Kalau bisa patroli malam itu wajib dilakukan. Jangan sampai mereka leluasa membawa senjata dan membuat masyarakat takut,” katanya.
Menurut Made, keresahan tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga masyarakat. Ia bahkan mengaku pernah melihat kelompok pengendara motor membawa senjata tajam saat melintas pada malam hari.
Kondisi tersebut, lanjutnya, juga membuat aktivitas warga pada dini hari menjadi lebih mengkhawatirkan. Terlebih masih banyak masyarakat yang berolahraga atau melakukan aktivitas lain pada waktu tersebut.
Made menilai pemberitaan dan penyebaran video aksi geng motor melalui media sosial juga berpotensi memperburuk citra Mataram. Apalagi, informasi mengenai aksi tersebut dapat dengan cepat menyebar dan diketahui calon wisatawan maupun pelaku usaha dari luar daerah.
“Media sosial ini siapa yang bisa kontrol? Itu yang membuat imej kota kita kurang baik,” ujarnya.
Ia berharap persoalan tersebut segera ditangani sehingga tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan mengganggu sektor pariwisata serta iklim usaha di kota jasa ini. (bul)



