Selong (Suara NTB) – Jumlah penderita katarak di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat, tercatat mencapai sekitar 4.700 kasus. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.160 pasien telah mendapatkan penanganan, sehingga masih terdapat sekitar 3.560 kasus yang belum tertangani.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, H. Lalu Aries Fahrozi, mengatakan data tersebut merupakan jumlah kasus yang tercatat dalam pendataan pihaknya.

“Dari data kami itu sekitar ada 4.700-an. Kemudian dari angka 4.700-an itu, ada sekitar 1.160-an sudah kita lakukan penanganan, sehingga di data kami sisanya tinggal 3.560-an lebih,” jelas Aries menjawab Suara NTB, Jumat (11/9/2026).
Pada Jumat, 11 September 2026 digelar operasi katarak untuk ratusan peserta di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lombok Timur yang ada di Labuhan Haji. Menurutnya, katarak secara umum disebabkan oleh dua faktor, yakni kongenital dan proses degeneratif. Katarak kongenital merupakan kondisi yang sudah terjadi sejak dalam kandungan hingga bayi dilahirkan dan umumnya dapat terdeteksi sejak usia anak-anak.
Sementara itu, katarak degeneratif terjadi akibat proses penuaan dan lebih banyak dialami oleh masyarakat usia lanjut. “Yang kedua karena proses degenerasi, di mana pada usia-usia lanjut itu terjadi proses katarak dan itu terjadi pada orang-orang tua atau usia lanjut,” ujarnya.
Aries menjelaskan, penanganan pasien katarak di Lombok Timur dilakukan setiap tahun melalui sejumlah program, termasuk kerja sama dengan pemerintah maupun pihak donatur.
Pada tahun ini, Dinas Kesehatan Lombok Timur sebelumnya mendapatkan kuota operasi katarak melalui kerja sama dengan Kementerian Sosial sebanyak sekitar 300 orang. Namun, realisasi operasi yang dapat dilakukan berada di kisaran 200 pasien atau sedikit di bawah angka tersebut.
Selain itu, terdapat pula program bakti sosial yang bekerja sama dengan donatur FHF dengan kuota sekitar 583 hingga 600 pasien.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 519 pasien katarak dan 39 pasien pterigium telah terjaring untuk mengikuti proses penanganan. Namun, seluruh peserta masih harus menjalani screening untuk memastikan kondisi mereka memenuhi persyaratan operasi.
“Tidak semua akan bisa lolos memenuhi syarat untuk dilakukan operasi karena berbagai macam kendala, terutama kendala klinis,” katanya.
Kondisi klinis yang menjadi pertimbangan antara lain tingkat kematangan katarak serta penyakit penyerta atau komorbid yang dimiliki pasien. Pasien dengan hipertensi maupun kadar gula darah yang belum terkontrol, misalnya, tidak dapat langsung menjalani operasi hingga kondisi kesehatannya memungkinkan.
Aries menegaskan bahwa program operasi katarak dan pterigium menyasar seluruh masyarakat Lombok Timur tanpa membedakan kemampuan ekonomi.
“Semua masyarakat kita, tidak melihat apakah dia mampu atau tidak mampu. Jadi siapa pun yang memiliki penyakit katarak dan pterigium, itu menjadi kelompok sasaran,” tegasnya.
Ia mengatakan dukungan dari pihak ketiga maupun para donatur selama ini sangat membantu pemerintah dalam memperluas akses penanganan gangguan penglihatan masyarakat.
Menurut Aries, masyarakat Lombok Timur pada dasarnya telah mendapatkan jaminan pembiayaan layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Namun, mulai 1 September 2025, terdapat pembatasan jumlah operasi katarak yang ditanggung melalui skema tersebut.
Karena itu, kegiatan bakti sosial yang melibatkan para donatur dinilai menjadi salah satu solusi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan operasi katarak maupun pterigium.
Masyarakat Diminta Rutin Memeriksakan Mata
Aries mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan mata, terutama bagi kelompok usia lanjut yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami katarak degeneratif. Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun rumah sakit.
Sementara untuk mencegah risiko katarak kongenital pada anak, ia mengingatkan ibu hamil agar rutin memeriksakan kehamilan serta menerapkan pola hidup sehat. Pemeriksaan terhadap anak juga perlu dilakukan sejak dini apabila ditemukan tanda-tanda gangguan penglihatan.
“Sehingga anak-anak kita bisa sehat, hidup normal, dan menjadi generasi-generasi yang sehat dan generasi emas tentunya,” pungkasnya. (rus/*)



