Mataram (Suara NTB) – Kasus keracunan masal yang dialami 352 siswa dari tiga Sekolah Dasar di Batukliang Kabupaten Lombok Tengah pada Jum’at (11/9) pekan kemarin menuai sorotan tajam dari Komisi V DPRD NTB. Pihak mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diminta jujur dan terbuka terkait penyebab keracunan tersebut.
Sekretaris Komisi V DPRD NTB, Hj. Siti Ary mengatakan insiden tersebut harus menjadi pembelajaran bersama. Oleh karena itu, perlu kejujuran dan keterbukaan mitra SPPG untuk perbaikan kedepannya.
“Kejadian ini harus jadi pelajaran kita semua. Mitra SPPG yang menyalurkan MBG juga harus bersikap terbuka dan jujur, sehingga kita semua tahu apa kira-kira penyebab keracunan itu,” ujar Siti Ary kepada Wartawan.
Politisi PPP NTB itu juga menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut. Ia menegaskan, perlu penjelasan dari pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Kami Komisi V juga nanti perlu minta penjelasan dari Dinas Kesehatan untuk kita tau apa penyebab keracunan ini. Sehingga kedepan bisa dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Dia juga meminta penanganan siswa yang menjadi korban harus menjadi prioritas utama.
Selain memastikan kondisi kesehatan para siswa, Siti Ary juga meminta mitra SPPG yang menyalurkan MBG tersebut dievaluasi guna mamastikan Standar Operasional Prosedur (SOP) telah diterapkan secara benar. “Mitra SPPG tersebut harus dievaluasi, apakah SOPnya sudah dijalankan atau tidak,” tegasnya.
Bagi anggota DPRD NTB dapil 8 Lombok Tengah ini program MBG merupakan program yang harus didukung karena menyasar pemenuhan gizi anak. Namun dukungan itu perlu pengawasan ketat terhadap pelaksanaannya di lapangan.
Ia menekankan, aspek keamanan dan kualitas makanan harus menjadi prioritas utama agar program MBG tidak menjadi bencana bagi penerima manfaat. “Program MBG ini sangat kita dukung, tapi sekali lagi harus ada pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.
Sementara itu sebelumnya, pemilik SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu, Haerudin menuding bahwa keracunan yang dialami ratusan siswa SD tersebut justru terjadi karena terlambat siswa-siswi mengkonsumsi makanan yang disalurkan SPPG-nya pada Jum’at (11/9) kemarin.
Dimana salah satu menu yang disajikan pada hari itu yakni kebab ayam. Menurut Haerudin, Kebab Ayam yang merupakan makanan siap saji yang seharusnya dikonsumsi langsung, namun terlambat dibagikan kepada siswa. (ndi)



