Selong (suarantb.com) – Di balik keindahan dataran tinggi Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur (Lotim) yang dikelilingi pegunungan dan menjadi ikon pariwisata Lombok, tersimpan tantangan ekologis dan energi yang serius. Pembuangan kotoran ternak sapi dan sampah organik ke aliran sungai tanpa pengolahan sempat memicu pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta merusak ekosistem air lokal. Di sisi lain, lembaga pendidikan dan pemberdayaan seperti Rumah Qur’an At-Tazkiyyah Sembalun dihadapkan pada ketergantungan bahan bakar fosil (LPG) serta tingginya biaya energi harian.
Melihat potensi siklus ekonomi terbarukan di kawasan agraris tersebut, tim peneliti dari Kelompok Bidang Ilmu Teknologi Elektromagnetika dan Konservasi Lingkungan untuk Kemanusiaan, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) menghadirkan solusi konkret.
Dipimpin oleh Made Sutha Yadnya, S.T., M.T., bersama Dr. Rosmaliati, Bulkis Kanata, M.T., Dr.rer.nat. Teti Zubaidah, dan Cipta Ramadhani, M.Eng., serta melibatkan mahasiswa dan alumni, tim Unram merancang dan menerapkan Sistem Biogas Terintegrasi Berbasis Komunitas.
Inovasi Sirkular Energi dan Integrasi Tumpang Sari
Program pengabdian ini tidak sekadar memasang teknologi terisolasi, melainkan membangun ekosistem energi sirkular yang terintegrasi penuh (circular energy model). Arsitektur teknis dan mekanisme kerja sistem ini mencakup:
- Reaktor Biogas Tipe Fixed Dome (Kubah Tetap): Dibangun reaktor kubah beton berkapasitas 8 meter kubik yang mampu menampung hingga 60 kg kotoran sapi per hari. Melalui fermentasi anaerobik, reaktor ini secara stabil memproduksi sekitar 2 meter kubik biogas harian.
- Diversifikasi Pemanfaatan Energi (Konversi Masak & Listrik):
- Bahan Bakar Memasak: Biogas dialirkan langsung ke kompor khusus untuk memenuhi kebutuhan dapur santri dan operasional Rumah Qur’an hingga 8 jam per hari, menggantikan penggunaan LPG fosil.
- Pembangkit Listrik Alternatif: Biogas dihubungkan ke Genset Biogas berkapasitas 1 kVA (230 Volt) yang mampu menghasilkan daya listrik harian hingga 4,7 kWh untuk penerangan dan perangkat elektronik.
- Inovasi Slurry Menjadi Pupuk Organik & Tumpang Sari: Sisa hasil fermentasi biogas (slurry baik padat maupun cair) dikondisikan menjadi pupuk organik kaya nutrisi untuk media tanam perkebunan dan pertanian sekitar. Hasil pertanian ini sebagian dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak sapi, menciptakan “lingkaran energi” (tumpang sari) yang tanpa limbah (zero waste).
- Transfer Teknologi & Keberlanjutan Mandiri: Program dilengkapi dengan pelatihan manajemen operasional, perawatan instalasi, hingga pembentukan kelompok pengelola mandiri yang melibatkan para santri dan peternak lokal sebagai agen perubahan lingkungan.
Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
Merujuk pada kriteria evaluasi dampak sosial-lingkungan perguruan tinggi pada Times Higher Education (THE) Impact Rankings, program pengabdian berbasis energi terbarukan ini memberikan kontribusi nyata pada enam poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):
- SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak (Clean Water and Sanitation) Pengolahan kotoran sapi menjadi biogas menghentikan kebiasaan pembuangan limbah ternak ke aliran sungai Desa Sembalun Bumbung, merestorasi kebersihan air, dan menghilangkan bau tidak sedap di pemukiman.
- SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau (Affordable and Clean Energy) Penerapan digester dan genset biogas menghadirkan akses energi terbarukan yang ramah lingkungan dan terjangkau untuk kebutuhan memasak dan penerangan listrik mandiri di Rumah Qur’an.
- SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) Sistem pengelolaan limbah berbasis komunitas ini menciptakan lingkungan pedesaan dan kawasan wisata Sembalun yang lebih bersih, sehat, dan tangguh terhadap krisis energi.
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) Pemanfaatan limbah organik menjadi biogas dan slurry pupuk organik mencerminkan prinsip ekonomi sirkular (circular economy) yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal tanpa menghasilkan limbah berbahaya (zero waste).
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action) Merekaputur gas metana dari kotoran ternak dan menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil (LPG/listrik batubara) berkontribusi langsung pada pengurangan emisi gas rumah kaca di tingkat lokal.
- SDG 15: Ekosistem Daratan (Life on Land) Pemanfaatan pupuk organik dari limbah biogas meningkatkan kesuburan tanah pertanian dan perkebunan di kaki Gunung Rinjani tanpa merusak struktur tanah akibat bahan kimia sintetis.
Prospek Keberlanjutan dan Model Replikasi Pedesaan
Inisiatif Fakultas Teknik Universitas Mataram di Rumah Qur’an At-Tazkiyyah ini membuktikan bahwa integrasi antara nilai keagamaan, pendidikan, dan teknologi terbarukan mampu melahirkan modal sosial yang kuat bagi pembangunan berkelanjutan. Model pengelolaan biogas terintegrasi berbasis tumpang sari ini berpotensi tinggi untuk direplikasi di desa-desa agraris dan pondok pesantren lain di seluruh NTB, menjadikan perguruan tinggi sebagai pilar utama transformasi energi bersih di Indonesia. (r/*)



