Giri Menang (Suara NTB) – Seni dan budaya tidak cukup hanya dikenalkan melalui teori di ruang kelas. Anak-anak perlu diberi ruang untuk berekspresi, berkarya, dan berinteraksi langsung dengan para pelaku seni. Semangat inilah yang dihadirkan melalui Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Kabupaten Lombok Barat (Lobar).
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) secara resmi meluncurkan GSMS di Gedung Seni dan Budaya Narmada, Senin (28/9/2026). Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha atau Umi Nurul Adha. Peluncuran atau Launching GSMS turut dihadiri perwakilan Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Sumari Adi Wibakso.

Hadir juga Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi NTB, Kepala Disdikbud Lobar, H. Lalu Najamudin beserta jajaran, kepala OPD terkait, seniman, budayawan, serta unsur Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Lombok Barat. Dalam sambutannya, Wabup menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan RI yang telah memilih Lombok Barat sebagai salah satu lokus pelaksanaan GSMS.
“GSMS menjadi wahana untuk membentuk keseimbangan otak anak-anak kita, sekaligus mengembangkan kreativitas, bakat, dan kecintaan mereka terhadap seni dan budaya,” ungkapnya.
Wabup juga menegaskan komitmen Pemkab Lobar untuk melanjutkan program GSMS pada 2027 dengan memperluas jangkauannya ke lebih banyak sekolah. “Harapan kita program ini tidak selesai di tahun 2026. Kita akan memberikan support agar GSMS bisa berlanjut pada 2027 dan ke depan dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Lombok Barat,” tegasnya.
Ia berharap keberlanjutan program tersebut tidak hanya melahirkan pertunjukan seni, tetapi juga membentuk generasi muda yang memiliki keberanian untuk berkarya, percaya diri, berkarakter, serta memiliki kebanggaan terhadap budaya daerah..
Sementara itu, perwakilan Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Sumari Adi Wibakso, menjelaskan bahwa GSMS merupakan bentuk kolaborasi antara seniman dan satuan pendidikan dalam memperluas akses pendidikan seni bagi peserta didik. Menurutnya, kehadiran seniman di sekolah juga menjadi salah satu upaya untuk menjawab keterbatasan tenaga pendidik di bidang seni sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk mengenali potensi, mengembangkan bakat, dan mengekspresikan kreativitas mereka.
“Melalui GSMS, kolaborasi pemerintah, sekolah, guru, dan seniman diharapkan terus tumbuh dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Program ini menjadi langkah nyata dalam menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya sejak dini, sekaligus menjaga agar warisan budaya tetap hidup di tengah generasi muda,” ujarnya.
Pelaksanaan GSMS di Lobar menjadi bagian dari upaya mendekatkan seni dan budaya dengan dunia pendidikan. Melalui interaksi langsung dengan seniman, peserta didik tidak hanya belajar menciptakan karya, tetapi juga mengenal nilai, tradisi, dan identitas budaya yang tumbuh di daerahnya. Dengan keberlanjutan program ini, Lobar diharapkan semakin memiliki ruang bagi tumbuhnya talenta-talenta muda di bidang seni dan budaya, sekaligus membangun generasi yang cerdas, kreatif, berkarakter, percaya diri, dan bangga terhadap budaya daerah. (her/*)



