BerandaEKONOMIPemdes Senggigi Siapkan Wisata Edukasi dari Dana Desa Berdaya

Pemdes Senggigi Siapkan Wisata Edukasi dari Dana Desa Berdaya


Mataram (Suara NTB) – Program unggulan Desa Berdaya yang digagas Pemerintah Provinsi NTB membuka peluang bagi Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, untuk mengembangkan sumber ekonomi baru dari sektor pariwisata.


Suntikan anggaran desa Rp300 juta yang dijadwalkan diterima pada 2027, pemerintah desa menyiapkan destinasi wisata edukasi untuk memperkaya atraksi Senggigi yang selama ini bertumpu pada panorama pantai dan keindahan alam.


Program ini memberi ruang bagi Desa Senggigi untuk mengembangkan potensi lokal menjadi produk wisata yang lebih beragam. Tidak sekadar menawarkan pemandangan, destinasi yang dirancang di atas lahan seluas 50 are atau setengah hektare itu akan menggabungkan wisata alam, pengetahuan tentang tanaman, budidaya lebah tanpa sengat (trigona), hingga produksi madu.


Kepala Desa Senggigi, Mastur, mengatakan lahan yang akan dikembangkan itu telah dipetakan sejak 2024. Namun, pengembangannya membutuhkan dukungan pembiayaan agar potensi yang tersedia bisa diolah menjadi daya tarik wisata yang memiliki nilai ekonomi.


“ Kita perlu terobosan baru. Selama ini wisata Senggigi lebih banyak menawarkan pemandangan dan kenyamanan. Dengan adanya dana Desa Berdaya ini, saya akan membuat konsep wisata edukasi agar berbeda dengan wisata konvensional,” ujar Mastur, Kamis, 29 Oktober 2026.


Menurutnya, pengembangan wisata edukasi menjadi salah satu upaya memperkuat daya saing Senggigi di tengah persaingan destinasi wisata di NTB, termasuk kawasan Mandalika. Senggigi dinilai memiliki modal alam yang beragam, mulai dari pantai dan taman laut hingga perbukitan serta kawasan hutan yang masih dapat dikembangkan.


Kehadiran destinasi edukasi diharapkan memperluas pilihan aktivitas wisatawan. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati panorama, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar tentang lingkungan dan budidaya lebah trigona, termasuk mengenal proses produksi madu.


Konsep tersebut juga dirancang untuk melengkapi atraksi budaya yang sudah berjalan, salah satunya Senggigi Sunset Show (S3) yang digelar setiap Sabtu malam. Dengan tambahan wisata edukasi, Senggigi diharapkan memiliki pilihan atraksi yang lebih beragam dan mampu menarik segmen wisatawan berbeda.


Bagi pemerintah desa, manfaat Program Desa Berdaya tidak berhenti pada tersedianya anggaran. Program ini menjadi kesempatan untuk menerjemahkan potensi wilayah menjadi kegiatan ekonomi yang lebih produktif. Apabila dikelola secara berkelanjutan, destinasi baru tersebut berpeluang membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata maupun usaha pendukungnya.


Mastur berharap pengembangan itu dapat memperkuat kembali posisi Senggigi sebagai salah satu destinasi unggulan NTB. Terlebih, pengembangan kawasan tersebut juga direncanakan mendapat dukungan pembiayaan dari sumber lain pada 2027.


Pemerintah Desa Senggigi, kata dia, berencana menyinergikan anggaran Desa Berdaya dengan bantuan pemerintah pusat sebesar Rp500 juta yang dijadwalkan diterima melalui Komisi V DPR RI. Selain itu, terdapat dukungan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum senilai Rp28 miliar untuk penataan kawasan Senggigi.


Dukungan dari berbagai sumber tersebut diharapkan dapat saling melengkapi. Penataan kawasan dan pengembangan atraksi wisata menjadi dua aspek yang perlu berjalan beriringan agar Senggigi tidak hanya memiliki daya tarik, tetapi juga didukung lingkungan destinasi yang semakin baik.


Di tengah keterbatasan fiskal desa akibat pengurangan alokasi dana desa dari pemerintah pusat pada 2026 dan 2027, Mastur menilai Program Desa Berdaya menjadi salah satu sumber dukungan bagi pemerintah desa untuk tetap mengembangkan potensi lokal.


Ia menjelaskan, bantuan Desa Berdaya disalurkan ke rekening pemerintah desa, kemudian dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) serta dokumen perencanaan sesuai tahun pelaksanaan. Dengan mekanisme tersebut, pemerintah desa memiliki ruang untuk merencanakan penggunaan anggaran berdasarkan kebutuhan dan potensi wilayah.


Meski demikian, Mastur menegaskan bahwa anggaran tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan masyarakat. Pengembangan wisata edukasi, menurutnya, perlu menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.


Ia mengapresiasi program yang digagas Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, tersebut. Ia berharap dukungan pemerintah provinsi dapat membantu desa mengembangkan potensi yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Kita adalah pelayan masyarakat. Karena itu, mari gunakan dan manfaatkan dana yang diberikan pemerintah provinsi ini sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat,” tutupnya. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO