BerandaNTBLOMBOK TIMURLotim Targetkan Produktivitas Padi 7 Ton per Hektare

Lotim Targetkan Produktivitas Padi 7 Ton per Hektare

Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) terus memperkuat langkah menuju swasembada pangan melalui peningkatan kompetensi penyuluh, penerapan teknologi pertanian modern, serta penguatan infrastruktur irigasi. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan. Target produktivitas lahan pasi bisa tembus minimal 7 ton per hektare.

Wakil Bupati Lotim, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas penyuluh pertanian di tengah proses transisi kelembagaan dan perubahan kebijakan pemerintah pusat.

Hal itu disampaikan Edwin sebelum membuka Bimbingan Teknis Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) dan Mitigasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Kamis (29/10/2026).

Menurut Edwin, penyuluh pertanian memiliki posisi strategis dalam menentukan keberhasilan program pembangunan sektor pertanian. Peran mereka tidak cukup hanya memberikan edukasi, tetapi juga dituntut menjadi inovator dan fasilitator yang mampu menjawab kebutuhan petani di lapangan.

Ia menjelaskan, peningkatan kompetensi dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, bimbingan teknis, kursus, serta pemanfaatan berbagai sumber pembelajaran digital. Dengan demikian, penyuluh diharapkan mampu mengikuti perkembangan teknologi dan menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan pertanian.

Dorongan peningkatan kompetensi tersebut sejalan dengan target penerapan PM-AAS di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencapai 28.523 hektare.

Ketua Tim Kerja Pendampingan Program Wilayah II Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTB, Darwis, mengatakan bimtek tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan peran penyuluh dalam mendampingi petani menerapkan sistem pertanian modern.

Ia mengajak penyuluh mendorong peningkatan produktivitas padi dari rata-rata lima ton per hektare menjadi enam hingga tujuh ton per hektare.

Target tersebut membutuhkan pendampingan yang konsisten, penerapan teknologi tepat guna, serta kemampuan mengantisipasi berbagai kendala dalam proses budi daya.

Menurut Darwis, dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, khususnya di NTB.

Program PM-AAS sendiri merupakan sistem budi daya padi intensif berbasis teknologi yang dikembangkan Kementerian Pertanian RI. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi usaha tani, menekan biaya produksi, serta meningkatkan hasil panen melalui pendekatan pertanian presisi.

Di NTB, pelaksanaan program tersebut didukung oleh 1.092 penyuluh pertanian. Implementasinya mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19 Tahun 2026 tentang perubahan tata kerja Kementerian Pertanian.

Salah satu penerapannya melalui penggunaan alat dan mesin pertanian modern, seperti Alat Tanam Benih Langsung (Atabela) atau drum seeder. Penggunaan teknologi ini diharapkan mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi kerja, dan mendukung produktivitas pertanian.

Selain modernisasi budi daya, Pemkab Lotim juga menaruh perhatian pada penguatan infrastruktur pendukung pertanian, terutama jaringan irigasi.

Edwin menekankan pentingnya membangun bank data infrastruktur irigasi yang mencakup berbagai tingkatan kewenangan, mulai dari desa hingga pemerintah pusat.

Menurutnya, data yang terintegrasi diperlukan agar perencanaan pembangunan lebih terarah, kebutuhan penanganan dapat dipetakan dengan jelas, dan penggunaan anggaran menjadi lebih optimal.

Pemerintah daerah berupaya memastikan pembangunan infrastruktur di Lombok Timur saling terkoneksi dan terintegrasi. Dengan demikian, pembangunan yang dilakukan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung keberlanjutan sektor pertanian.

Aspek lain yang menjadi perhatian dalam bimtek tersebut adalah mitigasi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Kemampuan penyuluh mengenali gejala serangan, memetakan potensi risiko, dan memberikan rekomendasi penanganan kepada petani menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tanaman serta mengurangi potensi kehilangan hasil panen.

Langkah pencegahan dan penanganan yang tepat diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan, terutama ketika petani menerapkan sistem budi daya intensif.  (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO