Bima (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kabupaten Bima mengingatkan, masyarakat mewaspadai peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya menjelang musim hujan. Kasus DBD mulai ditemukan di sejumlah desa meskipun hujan belum turun. Kondisi kekeringan yang mendorong masyarakat menampung air menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai.
Fungsional Epidemiolog Ahli Madya Dikes Kabupaten Bima, Sri Kurniawati, S.KM., M.M.Inf., mengatakan, salah satu wilayah dengan temuan kasus DBD yang cukup banyak adalah Desa Sie, Kecamatan Monta.
“Penyakit yang paling menonjol untuk kita hadapi saat ini adalah ancaman demam berdarah. Apalagi pada musim sekarang ini, meskipun belum turun hujan, banyak daerah yang mengalami kekeringan sehingga masyarakat menampung air. Hal ini menyebabkan kasus demam berdarah sudah mulai muncul di beberapa desa,” ujarnya saat dikonfirmasi Suara NTB, Selasa (3/11).
Sri menjelaskan, kasus DBD di Kabupaten Bima umumnya mulai muncul pada akhir tahun dan meningkat pada awal tahun berikutnya. Puncak kasus terkadang terjadi pada Januari atau Februari.
Berdasarkan data Satu Data NTB, kasus DBD di Kabupaten Bima pada 2025 mencapai 440 kasus dengan enam kematian. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat 146 kasus tanpa korban jiwa. Sementara pada 2023, kasus DBD mencapai 623 kasus dengan 19 kematian.
Untuk 2026, data jumlah kasus belum diperoleh. Namun, Sri menyebutkan, terdapat tiga warga yang meninggal dunia akibat DBD sepanjang tahun ini.
“Tahun ini ada sekitar 3 orang yang meninggal, jika saya tidak salah,” ungkapnya.
Selain DBD, chikungunya juga menjadi perhatian Dikes karena termasuk penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Sementara itu, malaria tidak lagi menjadi penyakit yang diwaspadai karena Kabupaten Bima telah mencapai eliminasi malaria. Pada awal musim hujan, diare dan tifoid juga berpotensi muncul bersamaan dengan DBD.
Untuk mengantisipasi peningkatan penyakit tersebut, Dikes telah berkoordinasi dengan pemerintah desa agar menggerakkan kembali kerja bakti masyarakat setiap Jumat. Kegiatan ini diarahkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, termasuk di sekitar rumah masing-masing warga.
“Untuk pencegahan saat ini, kami sudah berkoordinasi dengan masyarakat. Sejak kemarin, saya terus berkoordinasi, terutama dengan pihak desa, untuk menggalakkan kembali kerja bakti setiap hari Jumat. Kami mengajak warga, walaupun hanya di sekitar rumah masing-masing, untuk mencegah peningkatan kasus penyakit yang berbasis vektor seperti demam berdarah dan chikungunya, yang biasanya disebabkan oleh nyamuk,” tuturnya. (hir)



