Giri Menang (suarantb.com) – Capaian pembangunan infrastruktur di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dalam setahun terakhir mendapat apresiasi luas karena dampaknya yang signifikan terhadap geliat ekonomi daerah. Namun, di tengah kemajuan tersebut, persoalan klasik yang mendasar di masyarakat seperti pengelolaan sampah masih menjadi keluhan warga yang menuntut solusi permanen dari pemerintah daerah.
Anggota Fraksi PPP DPRD Lobar, M. Munip, mengakui bahwa arah pembangunan yang dijalankan pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang masif di wilayah Ibu Kota Kabupaten telah memberikan napas baru bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Pembangunan infrastruktur yang kita lihat saat ini sangat luar biasa. Dampak positifnya nyata, terutama dalam menggairahkan sektor UMKM. Kita bisa melihat bagaimana pusat ekonomi mulai hidup,” ujar Munip saat memberikan catatan kinerjanya, Rabu (25/2/2026).
Selain infrastruktur fisik, Munip juga menaruh harapan besar pada program 1 Miliar per Desa. Ia menilai kebijakan ini merupakan terobosan berkelanjutan yang mampu menyentuh persoalan di akar rumput secara langsung, asalkan dikelola dengan tepat guna. Sayangnya, wajah kemajuan tersebut sedikit tercoreng oleh kondisi pengelolaan sampah yang belum tuntas, khususnya di kawasan Pasar Gunungsari. Masalah ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan sudah mulai mengganggu stabilitas ekonomi para pedagang pasar.
Munip menyoroti fenomena penyumbatan saluran drainase akibat sampah pasar yang terbawa air hujan. Penumpukan ini menyebabkan aliran air meluap hingga ke badan jalan dan menciptakan lingkungan yang kumuh. Lebih memprihatinkan lagi, tumpukan sampah yang tak terangkut kini mulai “menginvasi” area berjualan.
“Kondisinya cukup memprihatinkan karena tumpukan sampah itu sudah mulai memakan lahan berjualan. Akibatnya, banyak pedagang yang tidak bisa lagi menempati lapaknya. Ini adalah gangguan ekonomi yang nyata bagi warga kita,” tegas Munip.
Sejauh ini, upaya swadaya masyarakat melalui gotong royong terus dilakukan. Bahkan, Munip secara pribadi sempat mengambil inisiatif ekstrem dengan memberikan honor pribadi kepada petugas penjaga malam di area pasar agar warga tidak membuang sampah sembarangan. Meski sempat efektif, ia menyadari langkah tersebut tidak bisa menjadi solusi jangka panjang.
Ia mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk lebih proaktif dan tidak hanya bekerja secara rutinitas. Menurutnya, dibutuhkan kehadiran fisik petugas di titik-titik rawan untuk memberikan edukasi sekaligus mendisiplinkan masyarakat.
“Kita butuh terobosan solutif dari OPD terkait. Pengangkutan sampah harus dioptimalkan dan jadwalnya diperbaiki. Jangan sampai masalah ini terus berulang setiap musim hujan tanpa ada perubahan kebijakan yang signifikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kadis Lingkungan Hidup (DLH) Lobar M Busyairi mengatakan bahwa pihaknya telah turun menangani sampah di Pasar Gunungsari, bahkan pengangkutan dilakukan secara reguler. “Kita angkut reguler, bahkan tiap hari kami angkut,” kata Busyairi.
Dua Armada dikerahkan untuk mengangkut sampah di pasar Gunungsari secara reguler. Busyairi mengatakan sampah yang berserakan berasal dari sampah yang dibuang ke saluran air. Karena itu, butuh kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. (her)


