Mataram (Suara NTB) – Lonjakan harga kedelai impor yang kini menembus Rp11 ribu per kilogram membuat para perajin tahu dan tempe di Kelurahan Kekalik, Kota Mataram, NTB semakin terjepit.
Untuk bertahan, sebagian perajin terpaksa mengurangi ukuran dan ketebalan tahu-tempe yang diproduksi. Sementara lainnya memilih menghentikan usaha karena tak lagi sanggup menutup biaya operasional.
Ketua Koperasi Perajin Tahu dan Tempe, Syafrudin, mengatakan kenaikan harga bahan baku terjadi dalam sebulan terakhir. Tak menutup kemungkinan karena pengaruh perang yang dilakukan oleh AS-Isarel kepada Iran. Apalagi bahan baku kedelai yang digunakan adalah kedelai dari luar negeri.
Harga kedelai yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram, kini melonjak hingga sekitar Rp10.100-Rp11.000 per kilogram.
“Banyak yang mati usahanya karena modal pinjamannya tidak jalan, ditambah harga bahan baku semakin tinggi,” kata Syafrudin saat ditemui di sentra perajin tahu dan tempe di Kekalik, Senin (6/4/2026).
Menurut Syafrudin, kedelai yang digunakan para perajin sebagian besar berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat, Brasil dan Argentina. Kenaikan harga diduga berkaitan dengan terganggunya rantai pasok global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat dan Iran.
Meski kedelai lokal bisa menjadi alternatif, stoknya dinilai tidak mencukupi. Di NTB, kedelai lokal hanya tersedia dalam waktu singkat setelah musim panen.
“Kalau kedelai lokal bisa dipakai, tapi tidak ada. Di sini paling hanya tersedia sekitar satu bulan,” ujarnya.
Syafrudin mengungkapkan, selain harga kedelai yang melambung, para perajin juga dibebani kenaikan harga bahan bakar untuk proses produksi. Bahan bakar berupa tongkol jagung dan kayu kini semakin sulit diperoleh.
“Dulu kami bisa beli dua sampai tiga ton bahan baku. Sekarang satu ton saja sudah berat,” katanya.
Akibat tekanan biaya tersebut, jumlah perajin aktif di kawasan Kekalik terus menyusut. Dari sekitar 80 perajin yang sebelumnya tersebar di empat lingkungan, kini hanya sekitar 50 yang masih bertahan.
“Kemungkinan akan terus berkurang karena bahan bakar juga sulit dan harga bahan terus naik,” kata Syafrudin.
Sementara itu, seorang perajin tahu tempe Kekalik, Ripai, mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain mengurangi ukuran produksi agar tetap bisa bertahan. Ditengah naiknya harga-harga bahan baku. Ia mengatakan ketebalan tahu kini sengaja dikurangi karena harga jual di pasar sulit dinaikkan.
“Siasatinya dikurangi isinya sedikit. Ketebalannya dikurangi pelan-pelan,” ujar Ripai.
Biasanya, satu cetakan tahu menggunakan takaran sekitar dua kilogram kedelai. Namun kini takaran itu dikurangi agar masih ada sedikit keuntungan.
Menurut Ripai, bila ukuran tidak dikurangi, usaha yang dijalankannya terancam merugi dan berujung tutup. Di sisi lain, pelanggan juga mulai mengeluhkan ukuran tahu yang semakin kecil dan tipis.
“Banyak yang komplain. Mereka bilang sekarang tipis dan kecil. Tapi mau bagaimana lagi, harga kedelai naik, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan,” katanya.
Ripai menuturkan, sebelum harga kedelai melonjak, ia mampu memproduksi hingga 1,5 kuintal per hari. Kini produksinya hanya sekitar satu kuintal karena permintaan pasar ikut menurun.
“Kalau diproduksi seperti biasa, nanti tidak habis di pasar. Pembeli sekarang juga mengurangi jumlah belanja,” ujarnya.
Para perajin berharap ada perhatian dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan modal, stabilisasi harga kedelai, maupun dukungan terhadap pengembangan kedelai lokal agar usaha tahu dan tempe di Mataram tidak semakin banyak yang gulung tikar. (bul)

