Na Willa merupakan film adaptasi dari buku berjudul sama karya Reda Gaudiamo. Dunia Na Willa yang ditulis Reda Gaudiamo sejatinya hadir dalam tiga buku. Yakni Na Willa, Na Willa dan rumah di Dalam Gang, dan Na Willa dan Hari-hari yang Ramai. Sutradara Ryan Adriandhy hanya mengambil satu buku saja “Na Willa” untuk film ini.
Film ini sendiri bercerita tentang bagaimana kehidupan di Gang Krembangan, Surabaya Jawa Timur pada era tahun 1960-an lewat kacamata Na Willa yang diperankan Luisa Adreena. Seorang gadis kecil berusia 6 tahun keturunan Cina-NTT.
Melalui film ini, Ryan selaku penulis dan sutradara menyajikan bagaimana kehidupan Na Willa dan teman-temannya Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi), dan Bud (Arsenio Rafisqy) di Gang Kembrangan.
Na Willa sendiri tayang pertama kali pada 18 Maret 2026 di bioskop Indonesia. Ia menjadi salah satu film yang mengisi daftar “Film Lebaran 2026.”
Di awal film kita diberitahu bahwa Willa umur 6 tahun hanya punya satu keinginan, bermain dengan teman-temannya di Gang Krembangan, mendengarkan musik dari Erres (radio) sambil mendengarkan Mak (Ibu Willa)—yang diperankan Irma Novita Rihi bersenandung, dan menunggu Pak pulang bersama buku-buku. “Aku mau besok, besoknya lagi, begini terus,” kata Willa mendeskripsikan keinginannya itu.
Namun, bak kepompong yang harus menjadi kupu-kupu, kehidupan Willa tak bisa terus-menerus berputar pada segala hal yang dia sukai. Di dalam film diperlihatkan bahwa Willa masuk taman kanak-kanak lebih lambat ketimbang teman-temannya di Gang Krembangan. Meskipun tak cepat bersekolah seperti kawan-kawannya, Willa belajar membaca dan menulis bersama Mak di rumah.
Untuk bisa bersekolah seperti teman-temannya, Mak mengharuskan Willa untuk bertanggung jawab atas anak ayam yang dibelikannya. Dari situlah Willa mulai belajar arti tanggung jawab—ia harus rajin memberikan anak ayam kecilnya makan untuk tetap hidup.
Setelah Willa dapat bersekolah, ia juga kembali belajar untuk menyukai hal-hal baru pada kesehariannya. Ia harus belajar berteman dengan teman barunya di taman kanak-kanak. Ia harus belajar menghormati gurunya. Bahkan ia harus belajar menyukai hal yang paling sederhana seperti belajar menyukai buah selain pisang.
Lewat Na Willa penonton juga dapat belajar pola asuh Pak yang diperankan Junior Lim (ayah Na Willa) dan Mak. Pak dan Mak menghadirkan pola pengasuhan yang hangat—tidak menggurui, tetapi tetap tegas dalam menanamkan nilai untuk anaknya.
Kita bisa melihat pada adegan Mak mengajarkan Willa soal apa itu berbohong. Saat itu Willa ikut belanja ke pasar bersama Mak. Di pasar Mak menitipkan Willa kepada Cik Mien, salah satu pemilik kios di pasar tersebut.
Setiap kali Willa dititipkan di sana, Ciek Min selalu memberikan Willa satu botol Oranye Cruz untuk diminum. “Oranye Cruz di kios Cik Min, Willa betul bukan Willa yang minta?” tanya Mak.
Willa menegaskan bahwa ia berkata jujur. Ia meminum Oranye Cruz di kios Cik Min bukan atas keinginannya sendiri. Ke depannya, Willa tetap memegang teguh nilai untuk tetap berkata jujur.
Di lain sisi, Pak, meskipun jarang di rumah, tetap memiliki andil kuat dalam membesarkan anaknya. Willa dibesarkan dengan buku-buku di sekitarnya karena Pak selalu membelikan Willa buku setiap pulang ke rumah.
Pak selalu menjadi ayah yang hadir degan menjaga komunikasi dengan Willa, meskipun dirinya bekerja di kapal yang membuat ia harus terpisah secara jarak tetapi tidak secara emosi.
Warna Warni Gang Krembangan
Segi teknis dalam film ini layak mendapat apresiasi. Ryan Adriandhy berhasil memindahkan Na Willa dari bumi ke medium visual dengan begitu hidup dan imajinatif. Penggunaan CGI memperkaya sudut pandang anak-anak yang penuh fantasi. Juga membuat keseharian sederhana di Gang Krembangan terasa magis dan menyenangkan.
Meskipun film ini bukan film musikal, penyisipan lagu “Sikilku Iso Muni” menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian. Adegan tersebut dikemas dengan tarian dan visual yang ekspresif, seolah membawa penonton masuk ke dalam dunia imajinasi Willa. Dan tentu saja menjadi salah satu trade mark bagi Film Na Willa.
Di luar lagu “Sikilku Iso Muni” penggunaan lagu-lagu lawas dari Lilis Suryani—juga lagu-lagu dari Nonaria turut membangkitakan nostalgia.
Sisi desain produksi dalam film ini juga patut diacungi jempol. Tim produksi berhasil merekonstruksi suasana Surabaya era 1960-an dengan detail yang hangat dan penuh warna. Atmosfer ini membuat Gang Krembangan bukan hanya menjadi latar, tetapi juga “karakter” yang hidup.
Hadirnya Na Willa memberikan warna baru bagi perfilman Indonesia, terutama dalam menambah deretan film dengan rating semua umur yang semakin jarang ditemui. Jika menengok ke belakang, tidak banyak film anak Indonesia yang benar-benar melekat kuat di ingatan kolektif penonton.
Sebelum Na Willa, Ryan Adriandhy sebenarnya telah lebih dulu unjuk gigi lewat film animasi “Jumbo.” Jumbo disambut baik oleh penonton Indonesia hingga sempat menjadi film Indonesia yang paling banyak ditonton.
Hingga saat ini, Na Willa telah menembus angka lebih dari satu juta penonton di bioskop. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa film “semua umur” yang hangat dan humanis masih memiliki tempat di hati penonton Indonesia. (Nurmita)
Judul: Na Willa
Sutradara dan penulis naskah: Ryan Adriandhy
Durasi: 118 menit
Genre: Drama, Keluarga
Produksi: Visinema

