Mataram (Suara NTB) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berlanjut. Rupiah melemah menyentuh Rp17.236,96 per USD pada Senin, 27 April 2026. Namun kondisi ini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas penukaran valuta asing (valas) di NTB. Pasar valas di daerah justru masih dipengaruhi rendahnya kunjungan wisatawan karena masih berada pada periode low season.
Ketua Asosiasi Perdagangan Valuta Asing (APVA) Provinsi NTB, Darda Subadra, mengatakan transaksi penukaran mata uang asing saat ini cenderung menurun dibanding musim ramai wisatawan. Menurutnya, faktor utama bukan karena gejolak nilai tukar rupiah, melainkan berkurangnya jumlah tamu yang datang ke NTB.
“Penukaran valuta asing agak berkurang karena tamunya berkurang. Sekarang memang masih low season,” ujarnya di Mataram.
Meski demikian, Darda menilai masih ada pergerakan transaksi yang menunjukkan tren membaik. Aktivitas penukaran uang asing masih berjalan normal dan pelaku usaha tetap optimistis kondisi akan pulih seiring meningkatnya kunjungan wisatawan pada musim liburan berikutnya.
Pelemahan rupiah secara teori seharusnya menjadi keuntungan bagi sektor pariwisata. Ketika nilai tukar rupiah melemah, wisatawan asing akan memperoleh nilai tukar lebih tinggi sehingga biaya berwisata di Indonesia terasa lebih murah.
“Seharusnya kalau tamu banyak, penukaran juga naik. Kita tentu senang kalau begitu,” katanya.
Namun realitas di lapangan, dampak positif tersebut belum terasa kuat. Darda menilai keputusan wisatawan untuk datang ke destinasi seperti Lombok umumnya sudah direncanakan jauh hari, sehingga fluktuasi kurs tidak langsung memengaruhi jumlah kunjungan dalam waktu singkat.
“Mereka biasanya sudah terjadwal dari jauh hari, sudah booking. Jadi bukan karena situasi sekarang langsung berubah,” jelasnya.
Selain itu, perubahan rute penerbangan internasional akibat dari perang di Timur Tengah juga ikut memengaruhi arus wisatawan. Beberapa wisatawan dari Eropa kini harus menempuh perjalanan lebih panjang dengan transit tambahan, berbeda dengan sebelumnya yang memiliki rute lebih langsung melalui Timur Tengah.
“Sekarang transitnya lebih jauh, ada yang lewat China dulu. Dulu lewat Emirat atau Doha lebih langsung ke Asia,” ujarnya.
Darda menambahkan, dalam transaksi sehari-hari, mata uang yang paling banyak ditukar di NTB masih didominasi dolar Amerika Serikat, euro, dan dolar Australia. Selain itu, mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia dan riyal Arab Saudi juga cukup diminati.
“Yang terbanyak tetap dolar AS, euro, Australia. Lalu Malaysia dan riyal,” kata Darda.
Di tengah perlambatan transaksi, ia memastikan seluruh pelaku usaha penukaran valuta asing di NTB masih tetap beroperasi. Tidak ada anggota APVA yang menutup usaha meskipun volume transaksi belum seramai periode puncak wisata.
“Tidak ada yang tutup, semua tetap beroperasi. Walaupun mungkin tidak banyak (penukaran), lebih baik tetap buka,” tegasnya.
Darda mengungkapkan perkembangan industry money changer, saat ini pemerintah pusat masih memberlakukan moratorium penerbitan izin baru maupun pembukaan cabang usaha penukaran valuta asing hingga sekitar September 2026. Kebijakan tersebut disebut berkaitan dengan pembenahan tata kelola industri. (bul)

